Select a Language

Search On Blog

Hukum Operasi Plastik

Pendahuluan

Hukum Operasi Plastik. Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan : الأصل فى الأشياء الإباحة حتى يدلّ الدليل على التحريم artinya asal segala sesuatu itu dibolehkan sampai adanya dalil yang mengharamkannya. Berdasarkan kaidah tersebut, maka apapun yang kita lakukan sebenarnya boleh kita lakukan, dan selamanya boleh kita lakukan, hingga adanya dalil atau petunjuk yang menyatakan haramnya melakukan sesuatu itu.

Oleh karena itu, operasi plastik tampaknya mesti dilihat dari tujuannya. Ada yang melakukan operasi karena ingin lebih cantik bagi perempuan atau lebih tampan bagi laki-laki, ada pula yang melakukan operasi plastik karena menghilangkan bekas-bekas akibat kecelakaan, cacat seperti bibir sumbing dan sebagainya.

Permasalahan yang sering kita dapati, tidak sedikit di antara para muslimah dan termasuk juga para muslim yang melakukan operasi dengan tujuan agar lebih cantik atau lebih tampan.

Hukum melakukan Operasi Plastik dengan Tujuan untuk Kecantikan.

Allah menyukai yang indah-indah dan Islam juga membolehkan seseorang untuk berhias atau mempercantik diri selama tidak berlebih-lebihan, apalagi sampai mengubah ciptaan Allah.. Kalau kita pikir secara logika, apa ruginya Allah apabila ada yang melakukan operasi kecantikan, sebab sesuatu yang telah baik diberikan Allah kemudian dilakukan lagi upaya lain agar pemberian tersebut menjadi super lebih baik, tentunya kalau dipikir-pikir Allah pasti senang, terlebih Allah juga menyukai hal-hal yang indah-indah.

Persoalan inilah yang perlu kita sadari bahwa tidak semua yang dilakukan manusia yang menurut manusia baik adalah baik pula dalam pandangan Allah. Merubah bentuk salah satu anggota tubuh yang berbeda dari apa yang diberikan Allah, dalam logika manusia dipandang baik, karena akan lebih cantik, tampan dan menarik. Asalnya kulit yang diberikan Allah hitam kemudian dirubah menjadi putih atau warna lainnya. Asalnya hidung yang diberikan Allah pesek kemudian dirubah menjadi mancung dan sebagainya. Namun demikian, apa yang dilakukan sebenarnya merupakan tindakan yang tidak percaya dengan pemberian Allah dan dapat dikatakan sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah.

Oleh karena itu merubah ciptaan atau pemberian Allah sebagaimana dideskripsikan di atas sebenarnya bertentangan dengan kodrat dan iradat Allah. Seharusnya manusia menyadari bahwa apapun yang diciptakan Allah di dunia ini bukan merupakan hal yang sia-sia (lihat Q.S. al-Baqarah ayat 26) atau tidak pula berpikir bahwa Allah gegabah dalam menciptakan sesuatu. Semua yang diciptakan Allah memiliki fungsi dan manfaat serta hikmah yang barangkali di antaranya tidak dapat dicerna dan dipahami oleh akal.

Menurut pandangan manusia atau seseorang yang melakukan operasi bahwa salah satu anggota tubuhnya kurang menarik, sehingga ia pun berkeinginan untuk merubahnya melalui operasi. Padahal dalam pandangan Allah pemberian-Nya itu yang dipandang manusia kurang menarik, sebenarnya memiliki manfaat yang luar biasa, hanya saja ia tidak mengetahui dan menyadarinya. Mestinya manusia dapat bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah dan memberdayakan pemberian tersebut dengan baik.

Selain itu, apabila persoalan di atas dikembalikan kepada sumber hukum Islam yaitu Alquran, maka Alquran telah secara jelas menyatakan orang yang merubah ciptaan-Nya adalah orang yang mengikuti jalan dan ajakan syaithan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. an-Nisa ayat 119 yang artinya :

Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

Dari ayat tersebut dapat dipahami, bahwa melakukan operasi plastik, yang hanya bertujuan mempercantik diri termasuk perbuatan syetan yang dilaknat Allah. Contohnya, operasi untuk memperindah bentuk hidung, dagu, buah dada, atau operasi untuk menghilangkan kerutan-kerutan tanda tua di wajah, dan sebagainya. Persoalan ini apabila dilihat dari kaidah yang disebutkan sebelumnya bahwa operasi plastik dengan tujuan untuk mempercantik [jirahah at-tajmil], maka hukumnya adalah haram.

Operasi Plastik untuk Memperbaiki Cacat atau Akibat Kecelakaan

Hukum melakukan operasi plastik dengan tujuan untuk memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir (al-’uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau cacat yang datang kemudian (al-’uyub at-thari`ah) akibat kecelakaan, kebakaran, atau semisalnya, seperti wajah yang rusak akibat kebakaran/kecelakaan, maka dapat dikategorikan sebagai mubah atau dibolehkan melakukan operasi tersebut.

Dalam ushul fikih, cacat atau akibat kecelakaan dapat dikategorikan sebagai mudharat atau disebut kemudaratan. Kemudaratan mengakibatkan ketidakbaikan yang akhirnya membuat orang yang mengalami kemudaratan ini tidak merasa nyaman beragama. Oleh karena itu, Islam memang bukan agama yang memudah-mudahkan sesuatu, tetapi bukan pula agama yang mempersulit. Kemudaratan mesti dihilangkan atau setidaknya menguranginya melalui operasi plastik.

Bolehnya menghilangkan kemudaratan berupa cacat sejak lahir atau cacat akibat kecelakaan adalah berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi الضرر يزال “kemudaratan itu mesti dihilangkan”, sehingga operasi plastik pun legal dilakukan dengan ketentuan sesuai dengan tujuan yang disebutkan.

Selain itu, bolehnya melakukan operasi plastik adalah berdasarkan keumuman (‘amm) dalil yang menganjurkan untuk berobat (at-tadawiy). Nabi SAW bersabda, مأأنزل الله دآء إلا أنزل له شفآء “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya.” (HR Bukhari, No.5246 dalam Program kutubuttis’ah).

Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda pula,يآعباد الله تداوَوْ فإنّ الله لم يصنع داء إلا وضع له شفآء ”Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR Tirmidzi, no.1961 dalam Program kutubuttis’ah).

Dalam ushul fikih disebutkan bahwa selama tidak ada dalil yang mengkhususkan dalil umum, maka selama itu pula dalil umum dapat diamalkan. Hadis di atas dipandang sebagai hadis yang umum, dan dapat diamalkan atau dapat dijadikan hujjah, karena tidak ditemukan adanya dalil yang mengkhususkannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa operasi plastik dengan tujuan untuk kecantikan hukumnya haram dan apabila dilakukan untuk memperbaiki cacat yang dibawa sejak lahir seperti bibit sumbing, kaki pincang dan sebagainya atau memperbaiki cacat akibat kecelakaan, maka hukumnya mubah (boleh) sepanjang tidak ada ketentuan agama yang dilanggar.

Ditulis Oleh : Abdul Helim
Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Hukum Operasi Plastik. Sahabat dapat menemukan artikel di atas dengan URL http://www.abdulhelim.com/2013/01/hukum-operasi-plastik.html. Silahkan kutip artikel Hukum Operasi Plastik jika dipandang menarik dan bermanfaat, tetapi tolong mencantumkan link Hukum Operasi Plastik sebagai Sumbernya.

Ditulis Oleh : Abdul Helim, S.Ag, M.Ag

3 komentar:

  1. saya setuju2 az dach....!!!!

    BalasHapus
  2. ane setuju soalnya abis kecelakaan.

    BalasHapus
  3. Operasi plastik dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan adalah boleh-boleh saja sebagaimana Hadis Nabi Saw: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ “Sesungguhnya Allah Swt itu Maha-Indah dan menyukai keindahan”.
    Kalau ada orang yang tidak menyukai keindahan berarti menyalahi kesukaan Allah SWT.
    Di dalam QS Al A’raf ayat 32 Allah Swt sendiri telah berfirman yang terjemahannya:
    Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat” Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.
    Adapun hikmah dibalik ciptaan Allah adanya manusia yang berwajah rupawan dan wajah kurang rupawan adalahnya berkembangnya Ilmu Bedah Kecantikan untuk memperbaiki sesuatu yang kurang baik sehingga meningkatkan kualitas personal.
    Sebagaimana dalam QS Ibrahim ayat 7 : “barang siapa yang bersyukur atas nikmatKu maka akan Ku tambah nikmat baginya berlipat ganda dan barang siapa yang ingkar terhadap nikmatKu maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih”
    Manusia wajib bersyukur atas nikmat karunia yang diterimanya maka nikmat itu akan bertambah, kemudian dia berusaha menambah nikmat itu dengan mengoperasi plastik sehingga nikmat itu bertambah dan kemudian bersyukur kembali atas keberhasilan meningkatkan kualitas nikmat itu tentu nikmat yang akan diterima semakin berlipat.
    Kehidupan di zaman sekarang tentu jauh berbeda dibandingkan zaman dahulu berbagai teknologi dan kebutuhan hidup banyak perubahan yang tentunya memerlukan penyesuaian tersendiri.
    Salah seorang sahabat Nabi yang paling dekat yaitu Umar Bin Khatab berkata: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”
    Pengertian merubah ciptaan Allah itu adalah merubah ayat-ayat Al Quran bukan dalam hal lain, karena saat ini banyak yang sudah berubah oleh perbuatan manusia misalnya sungai di bendung jadi waduk yang besar sehingga merubah lansekap bumi, tanaman padi yang tadinya panen setelah 6 bulan saat ini sudah bisa panen pada usia 3 bulan, munculnya mutan-mutan baru akibat perkembangan Ilmu Biologi dan Sains yang lainnya.
    Islam adalah jalan yang terang setelah kegelapan.
    Demikian tanggapan saya, mohon maaf kalau pendapat saya ini ada kekeliruan dan saya mohon ampun kepada Allah atas pemahaman yang tidak sempurna ini dan saya berserah diri pada Allah atas segala kekurangan pernyataan ini.

    BalasHapus

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Abdul Helim berharap anda dapat memberikan komentar, namun tolong agar menggunakan bahasa yang etis. terima kasih

Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.