Select a Language

Search On Blog

Beberapa Metode Alternatif Membina Keagamaan Anak dalam Keluarga


Pengertian Pembinaan

Kata "pembinaan" dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah : "Suatu proses, perbuatan, cara membina dan sebagainya, usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik."[1]
Pembinaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah "pembentukan, pembangunan, penyempurnaan, perbaikan, upaya untuk mendapatkan hasil yang baik."[2] Pengertian lain tentang pembinaan adalah : "Sebagai suatu tindakan, proses, hasil atau pernyataan menjadi lebih baik. Dengan adanya pembinaan dapat menunjukkan adanya kemajuan, peningkatan atas sesuatu.[3]
Tampak senada, pembinaan juga diartikan "untuk menunjukkan kegiatan yang mempertahankan dan menyempurnakan dari apa yang telah ada."[4] Melalui beberapa pengertian tentang pembinaan di atas, maka dapat diketahui bahwa pembinaan adalah adanya usaha yang terencana untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam suatu kegiatan dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika dihubungkan dengan keagamaan anak, maka pembinaan tersebut adalah usaha yang terencana untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam keagamaan anak di dalam rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya guna mendapatkan perilaku beragama anak yang lebih baik.

Dasar Hukum Pentingnya Pembinaan Keagamaan Anak dalam Rumah Tangga

Salah satu alasan pentingnya pembinaan keagamaan anak dalam rumah tangga karena dari ibu dan ayahnya, seorang anak pertama kalinya memperoleh bimbingan dan pendidikan. Tugas merekalah sebagai guru atau pendidikan tama bagi anak-anak dalam menumbuhkan dan mengembangkan kekuatan mental, fisik dan rohani anak-anak.[5]
Bagi orang tua yang sadar tentunya memahami arti pentingnya pembinaan keagamaan anak di dalam rumah tangganya, karena anak adalah makhluk berakal yang sedang tumbuh, bergairah dan ingin menyelidiki segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dengan adanya kesadaran semacam itu, tentunya ibu dan bapak merasa terpanggil untuk membina anak-anaknya sejak kecil demi mengembangkan segala potensi yang masih terpendam dalam diri mereka.[6]
Dalam ajaran Islam, anak adalah amanat dan cobaan. Kelak amanat dan cobaan ini akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah [7]yang artinya :

Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan[8]

Adanya kekhawatiran Allah terhadap amanat yang diberikan kepada kedua orang tua, maka Allah menegaskan agar tidak memandang enteng dan terlena dengan cobaan tersebut. Oleh karena itu Allah kembali menegaskan dalam firman-Nya[9] yang artinya :

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia[10]

Berdasarkan kedua ayat di atas, kini Allah memberikan ultimatum kepada orang tua agar mengingat selalu pesan Allah[11] yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu[12]

Pedihnya siksaan yang telah dijanjikan Allah itu, tentunya apabila berkaitan dengan masalah pembinaan keagamaan anak dalam rumah tangga, maka yang menjadi sorotan utama adalah ibu dan ayah karena dari keduanya anak dilahirkan. Anak sendiri dalam ajaran Islam ketika dilahirkan ibarat kertas yang siap dijadikan sebagaimana yang diinginkan orang tua, baik keinginan tersebut disadari ataupun tidak. Walaupun anak sedikit banyaknya dipengaruhi oleh faktor heredities (keturunan), tetapi ia juga akan siap dipengaruhi oleh keadaan alam sekitar tempat ia tumbuh. Teori konvergensi inilah yang tampaknya mendekati dengan sabda Nabi berikut ini :
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه او ينصرانه او يمجسانه (رواه البخارى) [13]  
Setiap orang yang dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), hanya ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. (H. R. Bukhari)

Apabila orang tua mencintai anaknya dan menjaga amanat yang diberikan kepada mereka tentunya akan secara suka rela dan tidak menemukan kesulitan –walaupun kesulitan tersebut dipastikan ada, namun dapat dianggap sebagai warna warni hidup- dalam mendidik dan membina anak dan keagamaannya.[14]

Tujuan Pembinaan Keagamaan Anak dalam Rumah Tangga

Tujuan pembinaan keagamaan dalam rumah tangga menurut Athiyyah al-Abrasy adalah untuk pembinaan akhlak anak, menyiapkan anak untuk hidup di dunia dan akhirat, menguasai ilmu, dan memiliki keterampilan bekerja dalam masyarakat.[15] Tujuan lain dapat dilihat dalam kutipan berikut ini :

Agar anak mampu berkembang secara maksimal. Itu meliputi seluruh aspek perkembangan anak, yaitu jasmani, akal dan rohani. Tujuan lain adalah membantu sekolah atau lembaga kursus dalam mengembangkan pribadi anak didiknya. [16]

Selanjutnya Ahmad Tafsir mengatakan bahwa inti dari pembinaan yang harus dilakukan pada setiap keluarga adalah pembinaan qalbu (hati) atau dalam istilah yang spesifik adalah pembinaan agama pada anak. Adanya pembinaan agama seperti ini, menurutnya orang tua dapat menanamkan nilai-nilai agama dalam pandangan hidup yang kelak mewarnai perkembangan jasmani dan akal anak. Selain itu penanaman sikap kelak menjadi basis dalam menghargai guru dan pengetahuan sekolah. [17]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, di sini dapat dikatakan bahwa pembinaan keagamaan anak dalam keluarga adalah pembinaan agama anak. Anak akan mengetahui bagaimana hidup dengan baik, berdisiplin, menghormati orang tua dan berikutnya menghormati guru. Semuanya itu ada dalam pembinaan agama. 

Beberapa Metode Pembinaan Keagamaan Anak

1.    Metode Hiwar (Percakapan) Qurani dan Nabawi
 
Topik  yang digunakan dalam percakapan seperti ini tidak dibatasi, ilmu pengetahuan ataupun ilmu agama juga termasuk di dalamnya. Kadang dalam percakapan seperti ini tidak harus diakhiri dengan kesimpulan yang jelas masing-masing pihak mengambil pelajaran untuk menentukan sikap bagi dirinya sesuai dengan topik percakapan tersebut. [18]
Menurut Nahlawi dalam Alquran dan Hadits terdapat berbagai jenis percakapan yakni : hiwar khitabi atau ta'abbudi, hiwar washfi, hiwar qishashi (percakapan tentang sesuatu melalui kisah), hiwar jadali dan hiwar nabawi. [19]

a.  Hiwar Khitabi atau Ta'abbudi
Model percakapan seperti ini adalah percakapan antara Tuhan dengan haba-Nya. Tuhan memanggil hamba-Nya dengan mengatakan "wahai orang-orang yang beriman". Orang yang beriman menjawab dalam qalbunya "kusambut panggilan Engkau ya rabb". Maksud dialog antara Tuhan dengan hamba-Nya ini merupakan suatu petunjuk bahwa dalam pembinaan anak dalam rumah tangga dapat dijadikan sebuah contoh pada anak. [20] Diharapkan melalui dialog ini, orang tua dapat mengambil pelajaran bahwa Alquran menanamkan hal-hal penting untuk dijadikan suatu pelajaran supaya anak :
1)    Tanggap terhadap persoalan yang diajukan Alquran, merunungkannya, menghadirkan jawaban sekurang-kurangnya di dalam qalbu;
2)    Menghayati makna kandungan Alquran;
3)    Mengarahkan tingkah laku anak agar sesuai dengan petunjuk Alquran
4)    Menanamkan rasa bangga karena dipanggil oleh Tuhan, "hai orang-orang yang beriman…"[21]

b.  Hiwar Washfi
Hiwar Washfi adalah dialog antara Tuhan dengan para malaikat atau dengan makhluk gaib lainnya. Dialog semacam ini dapat dijadikan contoh dalam pembinaan keagamaan anak dalam keluarga untuk menghadirkan kejadian-kejadian makhluk-makhluk Tuhan yang telah membangkang perintah-Nya dan makhluk-makhluk Tuhan yang taat kepada-Nya. Akibat dari pembangkangan ini, anak akan dapat membayangkan dengan rasa dan emosional yang dimilikinya betapa pedihnya siksaan dari Tuhan dan betapa nikmatnya balasan Tuhan bagi orang yang taat. [22] Oleh karena itu, orang tua perlu membangkitkan semangat anak-anaknya supaya tidak terjerumus sebagaimana orang-orang yang membangkang tersebut.

c.  Hiwar Qishashi
Hiwar Qishashi adalah percakapan Tuhan dengan hamba-hamba-Nya seraya menceritakan kisah-kisah yang memang benar terjadi pada masa lampau. Kisah-kisah tersebut dapat dilihat sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi Luth, umat Nabi Nuh, kedurhakaan Fir'aun dan Namruzh. Berdasarkan hiwar ini, anak diajak untuk selalu hidup di jalan yang benar dan membela untuk kepentingan yang benar sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Tuhan. [23]
 
d.  Hiwar Jadali
Hiwar Jadali adalah dialog Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang dengan serta merta Tuhan menghadirkan beberapa argumentasi atau hujjah bahwa Wahyu yang diturunkan kepada Muhammad beserta ajarannya adalah benar jika dibandingkan dengan kepercayaan masyarakat kala itu bahwa Latta, Uzza dan Manat adalah Tuhan mereka. Dialog semacam ini dapat dijadikan petunjuk kepada orang tua perlunya anak-anak terbiasa dapat mempertahankan argumentasi yang didasari akal yang sehat dan dalil-dalail yang telah tertulis dalam Alquran. [24]
Ahmad tafsir menyatakan bahwa hiwar jadali mengandung nilai pendidikan agar anak terdidik untuk menegakkan kebenaran dengan menggunakan hujjah yang kuat, kemudian berdasarkan hujjah tersebut anak akan terdidik untuk menolak kebatilan, karena hal tersebut adalah sangat rendah, dan anak juga anak terdidik selalu menggunakan gaya berpikir yang sehat, mengambil keputusan di antara banyak keputusan berdasarkan akal yang sehat. [25]
 
e.  Hiwar Nabawi
Hiwar Nabawi adalah percakapan yang digunakan Nabi dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Nabi menghendaki agar para sahabat mengajukan pertanyaan kepadanya yang selanjutnya Nab akan memeberikan jawaban kepada mereka. Namun pada saat itu tidak ada yang bertanya, maka untuk mengajar para sahabat Jibri diutus Allah dan bertanya seraya mengajarkan para sahabat bagaimana caranya bertanya.[26]
Berdasarkan dialog ini, orang tua perlu mengajarkan kepada anaknya untuk berani bertanya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Begitu jgua orang tua tentunya tidak merasa bosan dan selalu siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak sebagaimana Nabi menginginkan para sahabatnya bertanya kepadanya.

2.    Metode Kisah Qurani dan Nabawi
 
Metode ini amat mengandung unsur pedagogis karena apabila orang tua dapat menghadirkan cerita-cerita yang di yang dikisahkan oleh Alquran sendiri atau yang disampaikan Nabi, maka sebenarnya dapat membangkitkan semangat anak untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya sehingga dengan timbulnya sikap seperti ini akan merasa terkesan dan selalu terukir di dalam hatinya tentang kisah-kisah tersebut. [27] Karena adanya kesan di dalam hati, maka anak akan mudah menghayati kisah-kisah tersebut yang seolah-olah ia sendiri menjadi tokoh utamanya.
Selanjutnya, kisah qurani atau nabawi ini dapat dijadikan sebagai media untuk mendidik dan membina dalam artian penanaman rasa keimanan dengan cara :
a.  Membangkitkan berbagai perasaan seperti khauf (takut), ridha dan cinta;
b.  Mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada suatu puncak yaitu kesimpulan kisah;
c.  Melibatkan pembaca atau pendengar –anak- ke dalam kisah itu sehingga ia terlibat secara emosional. [28]

3.    Metode Amtsal

Dalam memberikan pelajaran akalannya Tuhan membuat perumpamaan. Hal ini dapat dilihat sebagaimana perumpamaan Tuhan bahwa orang kafir adalah seperti orang yang menyalakan api untuk membakar dirinya sendiri dan orang-orang yang berlindung selain kepada-Nya, laksana laba-laba membuat rumah, padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. [29]
Metode seperti itu dapat digunakan orang tua sewaktu membina keagamaan anaknya di rumah. Bahasa yang santun dan halus serta dengan perumpamaan akan menguntungkan dalam memberikan pembinaan, selain anak tidak merasa bahwa pada saat itu ia sedang disinggung, juga anak akan terbiasa menggunakan daya nalar yang dimilikinya untuk membaca dan menangkap makna-makna abstrak.

4.    Metode Teladan

Secara psikologis, anak pada masa pertumbuhan dan perkembangannya adalah masa-masa suka meniru, baik perilaku yang baik ataupun perilaku yang buruk. Oleh karena itu, contoh atau perilaku teladan dari orang tua dipandang penting untuk memberikan pembinaan kepada anak. Salah satu contoh yang dikemukakan, apabila orang tua menginginkan anaknya taat beribadah, tentunya orang tua harus lebih dahulu mencontohkan hal tersebut. [30]

5.    Metode Pembiasaan

Metode pembiasaan identik dengan pengulangan yang dilakukan secara kontinyu atau dalam bahasa lain merupakan suatu amalan yang nantinya akan berurat akar dan menjadi pola gaya hidup. [31] Kaitannya dengan pembinaan keagamaan anak dalam rumah tangga, tentunya perlu adanya pembiasaan yang awalnya telah dilakukan orang tua sehingga dapat menularkannya kepada anak, seperti mengucapkan salam ketika masuk ke dalam atau ke luar rumah, bangun pagi untuk mengerjakan shalat shubuh dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu dibiasakan. Apabila anak dibiasakan bangun pagi, maka akan merefleksi pada kegiatan anak yang lain, artinya anak akan cenderung terbiasa melakukan aktivitasnya di pagi hari. [32]

6.    Metode 'Ibrah dan Mau'izhah

Menurut Abdurrahman an-Nahlawi, metode 'ibrah dan mau'izhah adalah sebagai berikut : 
'Ibrah atau I'tibar adalah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar yang menyebabkan hati mengakuinya. Adapun mau'izhah adalah nasehat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya. [33]

Orang tua diharuskan mampu mengambil 'ibrah-'ibrah yang ada dalam Alquran yang kemudian dapat disalurkan kepada anak sebagai binaannya. Pengambilan 'ibrah tersebut dapat dikaji melalui kisah-kisah yang telah disediakan Alquran, sehingga dengan perantara metode ini anak akan dapat meresapi makna dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.
Begitu juga dengan mau'izah, tentunya juga orang tua harus memilki keterampilan menggunakan bahasa yang dapat menyentuh ke hati anak. Dengan nasihat-nasihat keagamaan, anak akan merasa terbina dengan getaran-getaran dari esensi nasihat tersebut. Semua ini tidak akan berhasil apabila orang tua sebagai pemberi nasihat tidak terlibat di dalamnya, tidak prihatin terhadap nasib anak yang dinasihatinya, dan tanpa disertai rasa ikhlas (lepas dari kepentingan duniawi), serta materi nasihat tersebut tidak diterapkan secara berulang kali. [34]

7.    Metode Targhib dan Tarhib

Targhib adalah janji kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai dengan bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga, akan tetapi tekanannya ia targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan.[35]

Dua metode di atas dapat diterapkan di dalam pembinaan keagamaan anak di rumah tangga. Bermodal metode 'ibrah dan mau'izhah orang tua dapat mendeskripsikan adanya targhib dan tarhib dari Tuhan. Selain itu orang tua dapat menyakinkan kepada anak bahwa apa yang telah dijanjikan Allah baik yang berupa targhib atau tarhib benar-benar ditepati Allah di akhirat kelak. 

Beberapa metode yang dijelaskan di atas tampaknya tepat diterapkan sebagai metode pembinaan keagamaan anak dalam situasi dan kondisi sekarang, sebab esensi dari metode-metode itu tidak hanya sebatas pengetahuan kognitif, tetapi pada dasarnya lebih mengarahkan pada pengetahuan afektif untuk menuju terampilnya menerapkan nilai-nilai agama secara psikomotorik dalam kehidupan. Amin.


[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989, h. 243
[2] Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1976, h. 673
[3] Miftah Thoha, Pembinaan Organisasi, Jakarta: Rajawali Press, 1987, h. 10
[4] Pasaribu Simanjuntak, Membina dan Mengembangkan Generasi Muda, Jakarta : Wijaya, 1976, h. 8 
[5] Henry N. Siahaan, Peranan Ibu Bapak Mendidik Anak, Bandung : Angkasa, 1991, h. ix
[6] Ibid. h. ix
[7] Q.S. al-Anfal [8]: 28
[8] Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, Jakarta: Indah Press, h. 264  
[9] Q.S. al-Kahfi [18]: 46
[10] Departemen Agama RI, Alquran h. 450  
[11] Q.S. at-Tahrim [66]: 6
[12] Departemen Agama RI, Alquran h. 951  
[13] Sayyid Ahmad Hasyimi, Mukhtar al-Hadits an-Nabawiyyah wa al-Hikam al-Muhammadiyyah, Kairo: Dar al-Fikr. h. 112
[14] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, h. 160
[15] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Logos, 1997, h. 55
[16] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan, h. 155
[17] Ibid. h. 157
[18] Ibid. h. 135
[19] Ibid. h. 136
[20] Ibid. h. 136
[21] Ibid. h. 138
[22] Ibid.
[23] Ibid. 138-139
[24] Ibid. 139
[25] Ibid. 140
[26] Ibid.
[27] Ibid. 140-141
[28] Ibid. 141
[29] Ibid. 141-142
[30] Ibid. 142-144
[31] Ibid. 144
[32] Ibid.
[33] Ibid. 145
[34] Ibid. 146
[35] Ibid. 146-147
Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Beberapa Metode Alternatif Membina Keagamaan Anak dalam Keluarga. Sahabat dapat menemukan artikel di atas dengan URL http://www.abdulhelim.com/2012/12/beberapa-metode-alternatif-membina-keagamaan-anak-dalam-keluarga.html. Silahkan kutip artikel Beberapa Metode Alternatif Membina Keagamaan Anak dalam Keluarga jika dipandang menarik dan bermanfaat, tetapi tolong mencantumkan link Beberapa Metode Alternatif Membina Keagamaan Anak dalam Keluarga sebagai Sumbernya.

Ditulis Oleh : Abdul Helim, S.Ag, M.Ag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Abdul Helim berharap anda dapat memberikan komentar, namun tolong agar menggunakan bahasa yang etis. terima kasih

Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.