Select a Language

Search On Blog

Pembelian Kupon Undian dalam Perspektif Hukum Islam

Pengertian Kupon Undian Berhadiah

Pembelian Kupon Undian dalam Perspektif Hukum Islam. Menurut Abu Ibrohim Muhammad Ali dalam bukunya Undian Berhadiah dalam Fiqih Islam, menjelaskan pengertian undian secara etimologi atau bahasa, yakni berasal dari kata bahasa Arab القُرْعَةُ atau السَهْمَةُ, yang berarti nasib atau bagian. Sedangkan secara istilah syar’i, Abu Ibrohim Muhammad Ali mengartikan undian sebagai berikut, yaitu menentukan salah satu dari beberapa orang yang sama-sama berhak terhadap sesuatu yang tidak mungkin dibagi rata dan masing-masing tidak punya keistimewaan.

Sedangkan pengertian hadiah menurut istilah para ahli fikih adalah suatu pemberian dengan maksud memuliakan, menjalin rasa suka, menyambung tali persahabatan, atau untuk suatu kebutuhan yang lain. Sementara menurut pedagang serta ahli bisnis, hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada konsumen dengan maksud melariskan barang dagangannya.


Penulis menyimpulkan bahwa undian berhadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang sebagai hadiah dari hasil penentuan beberapa orang yang sama-sama berhak terhadap sesuatu tersebut.

Status Hukum Pembelian Kupon Undian Berhadiah

Secara garis besar undian terbagi menjadi tiga, salah satunya adalah undian dengan mengeluarkan biaya. Salah satu bentuk dari jenis undian ini adalah pembelian kupon-kupon undian pada acara-acara yang melibatkan banyak orang, seperti seminar ilmiah dan jalan santai atau jalan sehat. Penyelenggaraan kupon-kupon berhadiah/ door prize merupakan cara yang sangat efektif untuk menarik minat masyarakat agar mengikuti seminar ilmiah ataupun jalan sehat/ santai. Namun hal tersebut perlu kita perhatikan juga status hukumnya menurut hukum Islam.

Mengenai hukum dari jenis undian ini adalah jelas haram dan tidak boleh, karena hal tersebut mengandung unsur-unsur dari perjudian (maisir/ qimar) yang telah penulis terangkan pada paragrap sebelumnya.

Muhammad Abduh sebagaimana dikutip oleh Rasyid Ridha, menerangkan sebagian resiko/ bahaya perjudian, ialah: merusak pendidikan dan akhlak, melemahkan potensi akal pikiran, dan menelantarkan pertanian, perkebunan, industri, dan perdagangan yang merupakan sendi-sendi kemakmuran.

Karena mafsadah-nya sudah jelas lebih banyak daripada mashlahah-nya, maka dengan menggunakan salah satu metode ushul fikih, yaitu sadd al-dzari’ah (menutup jalan yang bisa mengantarkan orang ke dalam hal-hal yang dilarang oleh agama), menurut pengertian jumhur ulama dapat dipakai sebagai dalil untuk mengharamkan pembelian kupon berhadiah dalam berbagai kegiatan baik seperti pada kegiatan seminar-seminar ilmiah ataupun jalan sehat.

Kesimpulan

Undian berhadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang sebagai hadiah dari hasil penentuan beberapa orang yang sama-sama berhak terhadap sesuatu tersebut.

Status hukum dari pembelian kupon berhadiah seperti seminar ilmiah ataupun jalan sehat adalah sama-sama haram. Hal tersebut merupakan ijma dari para ulama, karena bentuk-bentuk pengundian tersebut mengandung unsur-unsur perjudian (maisir/ qimar).


Penulis : Santi NIM 100 211 0346 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim.
Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Pembelian Kupon Undian dalam Perspektif Hukum Islam. Sahabat dapat menemukan artikel di atas dengan URL http://www.abdulhelim.com/2012/07/pembelian-kupon-undian-dalam-perspektif.html. Silahkan kutip artikel Pembelian Kupon Undian dalam Perspektif Hukum Islam jika dipandang menarik dan bermanfaat, tetapi tolong mencantumkan link Pembelian Kupon Undian dalam Perspektif Hukum Islam sebagai Sumbernya.

Ditulis Oleh : Abdul Helim, S.Ag, M.Ag
Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.