Select a Language

Search On Blog

Zina dan Status Anak yang Dihasilkan dari Perbuatan Zina

Ditulis Oleh : Abdul Helim Dipublikasikan : Kamis, 14 Juni 2012 Kategori :
Pendahuluan
Zina dan Status Anak yang Dihasilkan dari Perbuatan Zina. Anak bagi orang tua ketika ia masih hidup dapat dijadikan sebagai penenang, dan sewaktu ia pulang ke rahmatullah anak sebagai pelanjut dan lambang keabadian. Oleh karena itu, bagi yang tidak memiliki anak berupaya untuk mendapatkan anak, bahkan ada pula yang melakukan adopsi sebagaimana yang dibahas pada makalah sebelumnya.

Anak mewarisi tanda-tanda kesamaan orang tua, termasuk juga ciri-ciri khas, baik maupun buruk, tinggi maupun rendah. Dia adalah belahan jantungnya dan potongan dari hatinya. Dengan mempertimbangkan kedudukan anak ini, Allah pun mengharamkan zina dan mewajibkan kawin, demi melindungi nasab, sehingga air tidak tercampur.
Anak pun bisa dikenal siapa ayahnya dan ayah pun dapat mengenal siapa anaknya. Dengan perkawinan, seorang isteri menjadi hak milik khusus suami dan dia dilarang berkhianat kepada suami, atau menyiram tanamannya dengan air orang lain dan begitu pula sebaliknya. Kaitannya dengan keterangan di atas, penulis mencoba menguraikan sedikit tentang beberapa permasalahan anak, diantaranya tentang perbuatan zina dan status hukum terhadap anak hasil zina.

Pembahasan

Pengertian Zina dan Status Anak Zina

Perbuatan zina dapat didefinisikan sebagai berikut
ا لوطا فئ قبل خل عن ملك وشبهة
     Memasukkan penis (zakar, bhs. Arab) ke dalam vagina (farj, bhs. Arab) bukan miliknya (bukan istrinya) dan ada unsur syubhat (keserupaan atau kekeliruan).[1]
Dari definisi zina di atas, maka suatu perbuatan dapat dikatakan zina apabila sudah memenuhi 2 (dua) unsur ialah:
1.       Adanya hubungan badan (jimak) antara dua orang yang berbeda jenis kelaminnya
2.       Hubungan badan tersebut bukan sebagai suami isteri yang sah
3.       Tidak ada keserupaan atau kekeliruan dalam perbuatan hubungan badan tersebut.

Berdasarkan dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa anak zina adalah anak yang dihasilkan dari hubungan haram yaitu hubungan badan  antara dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan sebagai suami isteri yang sah.

Status Hukum Zina dan Anak Zina

Adapun status hukum zina sebenarnya telah jelas disebutkan dalam Alquran tentang haramnya perbuatan ini. Oleh karena itu dalam makalah ini yang lebih difokuskan adalah status hukum anak zina. 
Anak zina menurut pandangan Islam, adalah suci dari segala dosa, karena kesalahan itu tidak dapat ditunjukkan kepada anak tersebut, tetapi kepada kedua orang tuanya (yang tidak syah menurut hokum).[2]
Di dalam hadis disebutkan:
Tidak setiap anak dilahirkan suci bersih (menurut fitrah)”….(HR. Bukhari)

Oleh karena itu, anak hasil zina pun harus diperlakukan secara manusiawi, diberi pendidikan, pengajaran dan keterampilan yang berguna untuk bekal hidupnya di masa depan.
Tanggung jawab mengenai segala keperluan anak itu, baik materil maupun spiritual adalah ibunya yang melahirkannya dan keluarga ibunya itu.[3]
Mengenai status anak zina ini ada 2  pendapat, yaitu:
a.         Menurut Imam Malik dan Syafi’i, anak yang lahir setelah enam bulan dari perkawinan ibu bapaknya, anak itu dapat dinasabkan kepada bapaknya. Akan tetapi jika anak itu dilahirkan sebelum enam bulan dari perkawinan ibu bapaknya, maka dinasabkan kepada ibunya saja, karena diduga ibunya telah melakukan hubungan badan dengan orang lain, sedangkan batas waktu hamil, minimal enam bulan. Artinya tidak ada hubungan kewarisan  antara anak zina dengan ayahnya.[4]
b.        Menurut Imam Abu Hanifah, anak zina tetap dinasabkan kepada suami ibunya tanpa mempertimbangkan waktu masa kehamilan si ibu.

Dari uraian di atas penulis tampaknya lebih cenderung pada pendapat pertama.

Beberapa Akibat Negatif dari Zina

Islam menganggap zina sebagai tindakan pidana (jarimah) yang sudah ditentukan sanksi hukumnya dan ketentuan ini sudah pasti. Sayid sabiq dalam Fiqh Sunnah dengan tegas mengatakan, bahwa zina itu termasuk tindak pidana, dengan alasan-alasan:[5]
a.         Zina dapat menghilangkan nasab dan dengan sendirinya menyia-nyiakan harta warisan ketika orang tuanya meninggal dunia.
b.        Zina dapat menyebabkan penularan penyakit yang berbahaya bagi orang yang melakukannya.
c.         Zina merupakan salah satu sebab terjadinya pembunuhan.
d.        Zina dapat menghancurkan keutuhan rumah tangga dan meruntuhkan eksistensinya.


Akibat Hukum Bagi Anak Zina

Apabila anak dilahirkan secara tidak sah seperti pada kategori pendapat pertama di atas, maka ia tidak dapat dihubungkan dengan bapaknya (tidak sah), kecuali hanya kepada ibunya saja. Dalam hukum Islam anak tersebut tetap dianggap tidak sah, dan berakibat.
a.         Tidak ada hubungan nasab dengan laki-laki yang mencampuri ibunya.
b.        Tidak ada saling mewarisi dengan laki-laki itu dan hanya waris mewarisi dengan ibunya saja.
c.         Tidak dapat menjadi wali bagi anak perempuan, karena dia lahir akibat hubungan di luar nikah[6]

Kesimpulan
Anak zina adalah anak yang lahir akibat hubungan intim yang dilakukan tanpa adanya hubungan yang sah (bukan suami istri). Secara personaliti, anak tersebut tidak mendapatkan dosa dari perbuatan yang dilakukan orang tuanya, dan tidak pula berkewajiban ikut menanggung dosa kedua orang tuanya. Kendati demikian, Islam tetap memandang anak hasil zina itu tidak secara menyeluruh dapat memiliki hak-hak yang sama terhadap orangtuanya, sebagaimana yang didapatkan oleh anak yang lahir dari hubunagn perkawinan yan sah. Sebagai akibat kelahirannya yang melalui jalan yang diharamkan Islam, dari hak yang tidak bisa diperolehnya adalah hak nasab dengan bapak biologisnya, dan ketiadannya nasab diantara mereka berdua.
Hal di atas berakibat terhadap hak-hak yang lain diantaranya tidak memiliki nasab dengan ayah biologisnya, anak hasil zina tidak diwarisi dan mewarisi terhadap ayahbiologisnya,dikarenakan ketiadaan nasab, ayah biologisny tidak wajib memberi nafkah kepadanya, ayah biologisnya bukan mahram bagi anak itu, ayah biologisnya tidak bisa menjadi wali anak itu dalam pernikahan (jika dia wanita).


[1] Hasan, M. Ali. Masail fiqih al-haditsah masalah masalah kontemporer hukum Islam
[2] Ibid. h 80
[3] Ibid. h 81
[4]Hujaimah Tahido Yanggo, MA. Masail Fiqhiyah Kajian Hukum Islam Kontemporer. Cet I 2005
[5] Hasan, M. Ali. Masail fiqih al-haditsah masalah masalah kontemporer hukum Islam
[6] Ibid. h 83

Penulis : Fitriadi NIM 100 211 0342 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim
Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.