Select a Language

Search On Blog

Sterilisasi dalam Perspektif Hukum Islam

Ditulis Oleh : Abdul Helim Dipublikasikan : Kamis, 14 Juni 2012 Kategori :

Latar Belakang

Sterilisasi dalam Perspektif Hukum Islam. Sebagaimana dijelaskan pada makalah sebelumnya tentang hukum Keluarga Berencana, disebutkan bahwa Islam menyukai banyaknya keturunan di kalangan umatnya. namun, Islam pun mengizinkan kepada setiap muslim untuk mengatur keturunan apabila didorong oleh alasan kuat. Hal yang masyhur digunakan pada zaman rasulullah untuk mengatur kelahiran adalah dengan azl. Sekarang lazim dikenal dengan pengaturan kelahiran atau Keluarga Berencana (KB).
Ada berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan dalam berkeluarga termasuk mengenai perencanaan tentang pengaturan jumlah anak (KB), agar dapat menghasilkan keturunan yang berkualitas, diantaranya terpenuhi pendidikan, ekonomi dan
mempertimbangkan kesehatan si ibu, memelihara jiwa dan melindunginya dari berbagai ancaman berarti memelihara eksistensi kehidupan umat manusia.
Namun adakalanya, tidak semua orang merasa senang dan bahagia dengan setiap kelahiran yang tidak direncanakan, karena faktor kemiskinan, hubungan di luar nikah dan alasan-alasan lainnya. Hal ini mengakibatkan, ada juga sebagian wanita yang menggugurkan kandungannya setelah janin bersemi dalam rahimnya, hal tersebutlah yang dilarang oleh agama, kalau tidak ada udzurnya. Selanjutnya penulis akan membahas tentang sterilisasi dalam perspektif hukum Islam.

Pembahasan

Pengertian Sterilisasi

Sterilisasi ialah membuat mandul lelaki atau wanita dengan jalan operasi (pada umumnya) agar tidak dapat menghasilkan keturunan, dengan demikian sterilisasi berbeda dengan cara/alat kontrasepsi yang pada umumnya hanya bertujuan menghindari atau menjarangkan kehamilan untuk sementara waktu saja.[i]
Sterilisasi pada lelaki disebut vasektomi atau valigation, yaitu operasi pemutusan atau pengikatan saluran/pembuluh yang menghubungkan testis (penghasil sperma) dengan kelenjar prostate (gudang sperma), sehingga sperma tidak dapat mengalir keluar penis. Sedangkan sterilisasi pada wanita disebut tubektomi atau legation yaitu operasi pemutusan hubungan saluran/pembuluh sel telur (Tuba falopi) yang menyalurkan ovum dan menutup kedua ujungnya, sehingga sel telur tidak dapat keluar dan memasuki rongga rahim.[ii]
Sterilisasi baik untuk lelaki (vasektomi) maupun untuk wanita (tubektomi) menurut islam pada dasarnya haram (dilarang) karena ada beberapa hal yang prinsipil yaitu :
a.       Sterilisasi (vasektomi/tubektomi) berakibat kemandulan tetap. Hal ini bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan menurut Islam, yakni perkawinan lelaki dan wanita selain bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan suami istri dalam hidupnya di dunia dan akhirat, juga untuk mendapatkan keturunan yang sah yang diharapkan menjadi anak yang saleh sebagai penerus cita-citanya.
b.       Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan sebagian tubuh yang sehat dan berfungsi (saluran mani/telur).[iii]

Motivasi dan Cara Pelaksanaanya

Dilaksanakan sterilisasi karena dilandasi oleh beberapa faktor;antara lain :
a.              Indikasi Medis; yaitu biasanya dilakukan terhadap wanita yang mengidap penyakit yang dianggap dapat, berbahaya baginya; misalnya:
1)        Penyakit jantung;
2)        Penyakit ginjal
3)        Hypertensi dan sebagainya.
b.             Sosio Ekonomi; yaitu biasanya dilakukan, karena suami istri tidak sanggup memenuhi kewajiban bila mereka melahirkan anak, karena terlalu miskin.
c.              Permintaan sendiri; yaitu dilakukan karena permintaan oleh yang bersangkutan, meskipun ia tergolong mampu ekonominya. Karena mungkin istri atau suaminya ingin mengarahkan kegiatannya yang lebih banyak di luar rumah tangganya, maka ia tidak ingin mempunyai anak.[iv]
Ada beberapa cara yang sering dilakukan dalam proses strelisasi wanita; antara lain:
a.              Cara Radiasi; yaitu merusak ovarium, sehingga tidak dapat lagi menghasilkan hormon-hormon, yang mengakibatkan wanita menjadi menupause
b.             Cara Operatif, yang terdiri dari beberapa teknik, antara lain:
1)        Ovarektomi; yaitu mengangkat atau memiringkan kedua ovarium, yang efeknya sama dengan cara radiasi;
2)        Tubektomi, yaitu mengangkat seluruh tuba agar wanita tidak bisa hamil lagi, karena saluran tersebut sudah bocor.
3)        Ligasi Tuba; yaitu mengikat tuba, sehingga tidak dapat lagi dilewati ovum (sel-sel telur).
4)        Cara Penyumbatan Tuba, yaitu menggunakan zat-zat kimia untuk menyumbat lubang tuba, dengan teknik suntikan.
Mengenai cara yang biasa dilakukan dalam proses sterilisasi pria, adalah vasektomi; dengan teknik membedah dan membuka vas (bagian dalam buah pelir), kemudian diikat atau dijepit, agar tidak dilewati lagi sperma.[v]

Hukum Sterilisasi
Dari berbagai cara yang dilakukan oleh Dokter Ahli dalam upaya sterilisasi, baik yang dianggapnya aman pemakaiannya, maupun yang penuh resikonya, kesemuanya dilarang menurut ajaran Islam; karena mengakibatkan seseorang tidak dapat mempunyai anak lagi.
Pemandulan yang dibolehkan dalam ajaran Islam, adalah yang sifatnya berlaku pada waktu-waktu tertentu saja (temporer) bukan  sifatnya selama-lamanya. Artinya, alat kontrasepsi yang seharusnya dipakai oleh istri atau suami dalam ber-KB, dapat dilepaskan atau ditinggalkan, bila suatu ketika ia menghendaki anak lagi. Maka alat kontrasepsi berupa sterilisasi, dilarang digunakan dalam Islam, karena sifatnya pemandulan untuk selama-lamanya, kecuali kalau alat tersebut dapat disambung lagi, sehingga dapat disaluri ovum atau sperma, maka hukumnya boleh, karena sifatnya sementara.[vi]
Tetapi kalau kondisi kesehatan istri atau suami yang terpaksa, sehingga diadakan hal yang tersebut, menurut hasil penyelidikan seorang dokter yang terpercaya, baru dibolehkan melakukan hal-hal yan dilarang; sebagaimana keterangan Qaidah Fiqhiyah yang berbunyi: Keadaan darurat membolehkan (melakukan hal-hal) yang dilarang (dalam Agama).[vii]

Penutup

            Ajaran Islam membolehkan dalam pengaturan keturunan (KB), tetapi tidak dengan cara sterilisasi (pemandulan) baik itu vasektomi pada laki-laki dan tubektomi pada perempuan, karena tujuan pernikahan adalah memiliki keturunan, dan itu menyalahi kudrat dari Allah swt, kecuali kondisi kesehatan istri atau suami yang dalam keadaan darurat dan menurut hasil penyelidikan seorang dokter yang terpercaya sterilisasi harus dilakukan untuk keselamatan suami isteri atau salah seorang dari keduanya sehingga diadakan sterilisasi maka hal tersebut baru dibolehkan.


[ii]Ibid.
[iii]Ibid.
[iv]Drs. H. Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah : Berbagai Kasus yang dihadapi “Hukum Islam” Masa kini, Cet. 4. –Jakarta : Kalam Mulia, 2003, h. 68.
[v]Ibid.
[vi]Ibid
[vii]Ibid.

Penulis : Ahmad Zarkasi NIM 1002110339 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim

Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.