Select a Language

Search On Blog

Penyaluran Harta Zakat untuk Kemaslahatan Umum Perspektif Hukum Islam

Ditulis Oleh : Abdul Helim Dipublikasikan : Kamis, 14 Juni 2012 Kategori :

A.        Pendahuluan


Penyaluran Harta Zakat untuk Kemaslahatan Umum Perspektif Hukum Islam. Zakat merupakan kewajiban yang telah dititahkan oleh Yang Maha Kuasa kepada umat Islam. Kewajiban zakat ini tidak ada hubungannya dengan pajak sebagaimana dibahas sebelumnya. Hal ini disebabkan bahwa zakat merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan. Dengan munculnya berbagai permasalahan dalam kehidupan saat ini, tampaknya dari beberapa golongan yang berhak menerima zakat tersebut, perlu diadakan ekstensifikasi makna sehingga bukan hanya delapan golongan seperti fakir, miskin, amil, muallaf, budak yang akan dimerdekakan, orang yang berhutang, orang yang berjihad fi sabilillah, dan ibnu sabil atau musafir  yang berhak menerima zakat, namun ada pula kriteria-kriteria yang lain yang berhak pula menerima harta zakat. Salah satu persoalan yang dikaji dalam makalah ini adalah penyaluran harta zakat untuk kemaslahatan umum.

B.        Penyaluran Harta Zakat untuk Kemaslahatan Umum


Dalam penyaluran zakat, terdapat delapan golongan yang menjadi sasaran zakat. Delapan golongan tersebut ialah fakir, miskin, amil, muallaf, budak yang akan dimerdekakan, orang yang berhutang, orang yang berjihad fi sabilillah, dan ibnu sabil atau musafir. Di antara delapan golongan tersebut, pada pembahasan kali ini akan lebih difokuskan untuk menyoroti fi sabilillah.
Secara garis besar penafsiran fi sabilillah terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama menafsirkan makna fi sabilillah secara sempit hanya untuk orang yang berjihad dan berperang di jalan Allah untuk membela agama Islam. Dan yang kedua menafsirkan makna fi sabilillah secara luas. Mengenai penafsiran yang kedua ini lebih jelasnya akan penulis paparkan pernyataan yang tertuang dalam buku Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan karya M. Ali Hasan, yakni :

            Di dalam tafsir Al Maraghi disebutkan, bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah             adalah jalan yang ditempuh menuju ridha Allah, yaitu orang-orang yang             berperang dan petugas-petugas yang menjaga perbatasan. Oleh Imam Ahmad        diperluas lagi pengertiannya, yaitu menyantuni para jemaah haji, karena melaksanakan ibadah haji itu termasuk berjuang di jalan Allah. Demikian juga        termasuk ke dalam pengertian fi sabilillah semua bentuk kebaikan seperti           mengafani orang yang meninggal dunia, membuat jembatan, membuat benteng           pertahanan dan memakmurkan masjid dalam pengertian yang luas seperti      membangun dan memugar masjid.[1]

            Syaikh Mahmud Syaltut jauh sebelumnya  juga berpendapat bahwa penggunaan zakat atas nama fi sabilillah berlaku bukan hanya untuk kepentingan peperangan, tetapi juga mencakup pendirian rumah sakit, lembaga-lembaga pendidikan yang bermanfaat bagi umat Islam.[2] Sejalan dengan pendapat tersebut, berabad-abad yang lalu telah dijelaskan oleh Muhammad bin Abdul Hakam sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Tafsir Al Qurthubi bahwa :

            Zakat itu disalurkan untuk membeli keperluan perang, seperti kuda dan       persenjataan. Atau untuk membuat pagar batas daerah Islam, agar para musuh             tidak dapat masuk ke kawasan perkampungan kaum muslim. Atau apa pun yang       dapat menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan kesatuan umat Islam.[3]

            Ibnu Jarir juga menjelaskan mengenai makna dari fi sabilillah di dalam tafsirnya,
            Untuk jalan Allah maksudnya adalah nafkah yang bertujuan menolong agama        Allah dan apa-apa yang menyokong prosesnya serta syari’at-Nya, yang telah Dia         syari’atkan atas hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memerangi musuh-musuhnya,            berperang melawan orang kafir.[4]

            Selaras dengan beberapa pendapat di atas, penulis mendapatkan kesimpulan bahwasanya harta hasil zakat boleh digunakan, untuk segala bentuk kemaslahatan umat Islam seperti untuk pemugaran dan pembangunan masjid, pembangunan jalan, lembaga pendidikan, pemberian beasiswa pada siswa dan mahasiswa yang tidak mampu atau berprestasi atau yang lainnya.

C.        Penutup

            Penggunaan zakat atas nama fi sabilillah berlaku bukan hanya untuk kepentingan peperangan, tetapi juga mencakup pendirian rumah sakit, lembaga-lembaga pendidikan yang bermanfaat bagi umat Islam. Selaras dengan hal tersebut, penulis menyimpulkan bahwasanya harta hasil zakat boleh digunakan untuk segala bentuk kemaslahatan umat Islam.




                [1]M. Ali Hasan, Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan, cet. III, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000, h. 16.
                [2]Ibid., h. 17.
                [3]Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, (terjemahan) Jakarta: Pustaka Azzam, 2008, h. 452.
                [4]Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabari, Tafsir Ath Thabari Jilid 12, (Terjemahan)  Jakarta: Pustaka Azzam, 2009, h. 898.


Penulis : Ahmad Rafuan NIM 1002110345 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim
 
Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.