Select a Language

Search On Blog

Bank Sperma dalam Perspektif Hukum Islam

Ditulis Oleh : Abdul Helim Dipublikasikan : Jumat, 15 Juni 2012 Kategori :
A.      Pendahuluan

Bank Sperma dalam Perspektif Hukum Islam. Salah satu dari tujuan perkawinan adalah untuk melanjutkan keturunan dan menentramkan jiwa. Namun demikian kadang-kadang keturunan tidak diperoleh karena adakalanya si suami mandul (tidak subur), sedangkan suami istri menginginkan anak yang diharapkan sebagai penerus keluarga dan sebagai penghibur hati, namun dengan ketiadaan anak suasana rumah tangga pun tampaknya cenderung kurang tenang dan tenteram.  Berdasarkan keadaan tersebut ada orang yang berupaya untuk mendapatkan anak dengan jalan mengangkat atau memungut anak, melakukan inseminasi sperma, dan adakalanya dengan jalan menerima sperma dari donor yang telah tersimpan pada Bank Sperma seperti layaknya bank ASI. Berdasarkan hal di atas maka makalah ini akan membahas tentang bank sperma dalam perspektif hukum Islam.
B.      Pembahasan
               
          1.    Pengertian Bank Sperma

Bank sperma adalah pengambilan sperma dari donor sperma lalu dibekukan dan disimpan ke dalam larutan nitrogen cair untuk mempertahankan fertilitas sperma. Dalam bahasa medis bisa disebut juga Cryiobanking. Cryiobanking adalah suatu teknik penyimpanan sel cryopreserved untuk digunakan di kemudian hari. Pada dasarnya, semua sel dalam tubuh manusia dapat disimpan dengan menggunakan teknik dan alat tertentu sehingga dapat bertahan hidup untuk jangka waktu tertentu. Dengan adanya cryobanking ini, sperma dapat disimpan dalam jangka waktu lama, bahkan lebih dari 6 bulan (dengan tes berkala terhadap HIV dan penyakit menular seksual lainnya selama penyimpanan).[i]
Kualitas sperma yang telah disimpan dalam bank sperma juga sama dengan sperma yang baru, sehingga memungkinkan untuk proses ovulasi. Bank sperma sebenarnya telah berdiri beberapa tahun yang lalu, pada tahun 1980 di California yang didirikan oleh Robert Graham, si kakek berumur 73 tahun, juga di Eropa, dan di Guangdong Selatan China, yang merupakan satu di antara lima bank sperma besar di China, Sementara itu, Bank pusat sel embrio di Shanghai, bank besar lain dari lima bank besar di China, meluncurkan layanan baru yang mendorong kaum lelaki untuk menabung spermanya.[ii] Latar belakang munculnya bank sperma antara lain adalah sebagai berikut:
a.         Keinginan memperoleh atau menolong untuk memperoleh keturunan pada seorang pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak.
b.         Memperoleh generasi jenius atau orang super.
c.         Menghindarkan kepunahan manusia
d.        Memilih suatu jenis kelamin
e.         Mengembangkan kemajuan teknologi terutama dalam bidang kedokteran.[iii]

Adapun tujuan diadakan bank sperma adalah semata-mata untuk membantu pasangan suami isteri yang sulit memperoleh keturunan dan menghindarkan dari kepunahan sama halnya dengan latar belakang munculnya bank sperma seperti yang telah dijelaskan diatas. Tentang proses pelaksanaan sperma yang akan di ambil atau di beli dari bank sperma untuk dimasukkan ke dalam alat kelamin perempun (ovum) agar bisa hamil disebut dengan inseminasi buatan yaitu suatu cara atau teknik memperoleh kehamilan tanpa melalui persetubuhan.[iv] Pertama setelah sel telur dan sperma di dapat atau telah dibeli dari bank sperma yang telah dilakukan pencucian sperma dengan tujuan memisahkan sperma yang motil dengan sperma yang tidak motil/mati. Sesudah itu antara sel telur dan sperma dipertemukan. Jika dengan teknik in vitro, kedua calon bibit tersebut dipertemukan dalam cawan petri, tetapi teknik TAGIT sperma langsung disemprotkan kedalam rahim. Untuk menghindari kemungkinan kegagalan, penenaman bibit biasanya lebih dari satu. Embrio yang tersisa kemudian disimpan beku atau dibuang.

2.    Hubungan Bank Sperma dan Perkawinan

Perkawinan di dalam Islam merupakan suatu institusi yang mulia. Ia adalah ikatan yang menghubungkan seorang lelaki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri. Hasil dari akad yang berlaku, kedua suami dan isteri mempunyai hubungan yang sah dan kemaluan keduanya adalah halal untuk satu sama lain[v]. Sebab itulah akad perkawinan ini dikatakan sebagai satu akad untuk menghalalkan persetubuhan di antara seorang lelaki dengan wanita, yang sebelumnya diharamkan.

¨@Ïmé& öNà6s9 s's#øs9 ÏQ$uŠÅ_Á9$# ß]sù§9$# 4n<Î) öNä3ͬ!$|¡ÎS 4 £`èd Ó¨$t6Ï9 öNä3©9 öNçFRr&ur Ó¨$t6Ï9 £`ßg©9 3 zNÎ=tæ ª!$# öNà6¯Rr& óOçGYä. šcqçR$tFøƒrB öNà6|¡àÿRr& z>$tGsù öNä3øn=tæ $xÿtãur öNä3Ytã ( z`»t«ø9$$sù £`èdrçŽÅ³»t/ (#qäótFö/$#ur $tB |=tFŸ2 ª!$# öNä3s9 4 ......
Artinya:  Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu,…(QS. 2 [al-Baqarah] : 187)

Namun, hubungan perkawinan dalam wujud ini bukanlah semata-mata untuk mendapatkan kepuasan seks, tetapi merupakan satu kedudukan untuk melestarikan keturunan manusia secara sah atau sebagai wahana. Karena itulah kehadiran anak merupakan hal yang didambakan oleh orang tua sebagai generasi penerus dari keluarganya. Dalam Islam perkawinan merupakan hal yang penting, mengingat dari perkawinan ini akan menentukan hukum yang lain yang muncul dari sebab nasab, seperti perwalian, warits dan lain-lain.[vi]
Namun demikian tidak semua pasangan memiliki kemudahan dalam mendapat keturunan, tetapi ada sebagian mereka yang sulit mendapat keturunan yang disebabkan oleh kurangnya kesuburan, mengidap suatu penyakit atau alasan lain. Maka mucullah gagasan mendirikan bank sperma.[vii] Kehadiran bank sperma merupakan peluang bagi pasangan yang sulit untuk mendapatkan keturunan untuk memiliki keturunan melalui jalan lain, yaitu membeli sperma dan diinseminasikan ke dalam rahim isteri. Hal itu bisa dilakukan dengan mudah di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini.

3.    Hukum Bank Sperma dan Pendapat Para Ulama

Di antara fuqaha yang memperbolehkan/menghalalkan inseminasi buatan yang bibitnya berasal dari suami-isteri ialah Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Yusuf al-Qardhawy, Ahmad al-Ribashy, dan Zakaria Ahmad al-Barry.[viii] Secara organisasi, yang menghalalkan inseminasi buatan jenis ini Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Depertemen Kesehatan RI, Mejelis Ulama` DKI Jakarta, dan lembaga Islam OKI yang berpusat di Jeddah. Selain kasus di atas (sperma dari suami ditanam pada rahim isteri) demi kehati-hatian maka ulama mengharamkannya. Contoh sperma dari orang lain ditanam pada rahim isteri. Diantara yang mengharamkan adalah Lembaga fiqih Islam OKI, Majelis Ulama DKI Jakarta, Mahmud Syaltut, Yusuf al-Qardhawy, al-Ribashy dan zakaria ahmad al-Barry dengan pertimbangan dikhawatirkan adanya percampuran nasab dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.[ix] Hal ini sesuai dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia tentang masalah bayi tabung atau inseminasi buatan.
Dengan demikian hukum pendirian bank sperma bisa mubah jika bertujuan untuk memfasilitasi suami isteri yang ingin menyimpan sperma suaminya di bank tersebut, sehingga jika suatu saat nanti terjadi hal yang dapat menghalangi kesuburan, isteri masih bisa hamil dengan cara inseminasi yang halal.[x] Adapun jika tujuan pendirian bank sperma adalah untuk mendonorkan sperma kepada wanita yang bukan isterinya maka pendirian bank sperma adalah haram, karena hal yang mendukung terhadap terjadinya haram maka hukumnya haram.

C.      Kesimpulan

Hukum pendirian bank sperma tergantung dari dua hal, yaitu cara pengambilan sperma dari donor dan proses inseminasi. Pengambilan sperma dilakukan melalui masturbasi dan para ulama beda pendapat dalam menanggapi masturbasi ini, ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Sedang masalah inseminasi, jika inseminasi yang halal (sperma suami diinseminasikan kepada rahim isteri) maka hukumnya boleh, sedang jika inseminasi yang haram (sperma orang lain diinseminasikan ke rahim isteri), maka hukumnya haram.



[i] Abdul Qadim, Zallum,  Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam....., h. 237.
[ii] Ibid., h. 246
[iii] Ibid.
[iv] M. Ali, Hasan, Masail Fiqhiyah Al Haditsah: Masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam, Cet. 4, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000, h. 164.
[v] Ibid.
[vi] Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah: Berbagai Kasus yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini...., h. 142.
[vii] Ibid.
[viii] M. Ali, Hasan,  Masail Fiqhiyah Al Haditsah: Masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam......., h. 165.
[ix] Masjfuk,  Zuhdi,  Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam......, h. 282.
[x] Ibid., h. 293.


Penulis : Yakin Soleh NIM 100 211 0333 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim 

Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.