Select a Language

Search On Blog

Zhâhir, Nash, Mufassar, Muhkam, Khafi, Musykil, Mujmal, dan Mutasyâbih

Ditulis Oleh : Abdul Helim Dipublikasikan : Rabu, 02 Mei 2012 Kategori :

Penulis : Santi NIM 100 211 0346 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester Genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim

Pendahuluan
Secara garis besar, dalam ilmu Ushul Fikih lafaz dari segi kejelasan artinya terbagi kepada dua macam, yaitu lafaz yang terang artinya dan lafaz yang tidak terang artinya. Dimaksud dengan lafaz yang terang artinya ini adalah yang jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud tanpa memerlukan penjelasan dari luar. Jenis ini terbagi dalam 4 tingkatan, yaitu zhâhir, nash, mufassar, dan muhkam. Sedangkan yang dimaksud lafaz yang tidak terang artinya adalah yang belum jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud kecuali dengan penjelasan dari luar lafaz itu. Jenis ini pun terbagi dalam 4 tingkatan, yaitu khafi, musykil, mujmal, dan mutasyâbih.
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan tingkatan-tingkatan yang terkait dengan lafaz yang terang artinya dan lafaz yang tidak terang artinya, yakni mengenai zhâhir, nash, mufassar, muhkam, khafi, musykil, mujmal, dan mutasyâbih.


Pembahasan

A.    Zhâhir
Terdapat beberapa rumusan yang berbeda di kalangan ulama ushul mengenai definisi zhâhir, di antaranya:
a.       Menurut Al-Sarkhisi, zhâhir adalah
مَا يُفْهَمُ الْمُرَادُ مِنْهُ بِنَفْسِ السَّمَاعِ مِنْ غَيْرِ تَأَمُّلٍ
Dari apa-apa yang didengar meskipun tanpa pemahaman yang mendalam dapat diketahui apa sebenarnya yang dimaksud oleh pembicara dengan lafaz itu.[1]
b.      Zhâhir, yaitu apa yang menunjukan maksud daripadanya itu dengan sighat itu sendiri, tanpa menghentikan faham maksudnya itu terhadap urusan luar. Dan apa yang dimaksudnya itu ialah hal-hal yang menjadi pokok pembicaraan. Dia mengandung takwil. Bila ada maksud memahami kata-kata tanpa memerlukan qarinah. Tidak ada maksud asli dari pembicaraan. Kata-katanya itu di’itibarkan dengan jelas.[2]
Berikut adalah beberapa contoh dari lafaz zhâhir:
a.       QS. Al-Baqarah (2) ayat 275:
¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4    
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Ayat ini jelas sekali mengandung pengertian bahwa jual beli itu hukumnya halal dan riba itu hukumnya haram, karena makna inilah yang mudah dan cepat ditangkap oleh akal seseorang tanpa memerlukan qarînah yang menjelaskannya.[3] Meskipun demikian, ungkapan ayat tersebut bukanlah sekedar untuk menyatakan hal tersebut. Akan tetapi, untuk menafikan apa yang dibayangkan orang tentang jual beli dan riba, dan menolak apa yang dikatakan orang bahwa jual beli itu adalah seperti riba, bukan untuk menyatakan hukum kedua hal ini.[4]
b.      QS. Al-Hasyr (59) ayat 7:
 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߧ9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Ayat tersebut begitu jelas artinya, yaitu keharusan menaati apa yang disuruh Rasul baik mengenai apa yang disuruhnya dan apa yang dilarangnya, karena inilah yang mudah dipahami secara cepat (mudah).[5] Namun, bukan ini maksud pokok pembicaraan. Yang menjadi pokok ialah harta rampasan yang diberikan oleh Rasul, ketika dia membagi-bagikannya, maka ambillah. Dan apa-apa yang dilarangnya maka hentikanlah.[6]
Ketentuan yang menyangkut lafaz zhâhir adalah bila berhubungan dengan hukum, maka wajib mengamalkan hukum menurut lahirnya selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan lain dari lafaz itu.[7] Dia juga mengandung takwil, artinya penyimpangan dari zahirnya dan ada maksud lain dari artinya itu.[8]  
B.     Nash
Seperti halnya zhâhir, terhadap nash pun para ulama ushul berbeda dalam merumuskan definisinya, di antaranya:
a.       Menurut Ulama Hanafiyah, nash adalah:
هُوَ مَا دَلَّ بِنَفْسِ صِيْغَتِهِ عَلَى الْمَعْنَى الْمَقْصُوْدِ أَصَالَةً عَلَى مَا سِيْقَ لَهُ وَ يَحْتَمِلُ التَّأْوِيْلِ
Lafaz yang dengan sighatnya sendiri menunjukkan makna yang dimaksud secara langsung menurut apa yang diungkapkan, dan ada kemungkinan ditakwilkan.[9]
b.      Nash, yaitu apa yang ditunjukkan oleh sighatnya itu sendiri terhadap arti yang dimaksud dari pokok pembicaraan. Dan mengandung takwil. Apabila maksud itu cepat difahami dari lafadznya dan tidak terhalang memahaminya terhadap urusan luar, adalah maksud pokok pembicaraan.[10]
Berikut adalah beberapa contoh dari lafaz nash:
a.       QS. Al-Baqarah (2) ayat 275:
¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4    
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Secara nash, ayat tersebut bertujuan untuk menyatakan perbedaan nyata antara jual beli dengan riba sebagai sanggahan terhadap pendapat orang yang menganggapnya sama. Hal ini dapat dipahami dari ungkapan keseluruhan ayat tersebut. [11] Meskipun maksud ayat ini sudah sangat jelas, namun dari ayat ini dapat pula dipahami maksud lain, yaitu halalnya hukum jual beli dan haramnya hukum riba. Pemahaman ini disebut pemahaman secara zhâhir.
b.      QS. Al-Hasyr (59) ayat 7:
 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߧ9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Ayat ini secara nash bertujuan untuk menyatakan keharusan mengikuti Rasul tentang pembagian harta rampasan, baik yang dibolehkan maupun yang tidak. Namun dari ayat ini pula dapat dipahami artinya secara zhâhir, bahwa kita wajib mengerjakan apa yang disuruh Rasul dan menghentikan apa yang dicegah Rasul untuk mengerjakannya.[12]
Nash itu dalam penunjukannya terhadap hukum adalah lebih kuat dibandingkan dengan zhâhir, karena penunjukan nash lebih terang dari segi maknanya. Nash itulah yang dituju menurut ungkapan “asal”, sedangkan zhâhir bukanlah tujuan langsung dari pihak yang mengungkapkannya. Oleh karena itu, makna yang dituju secara langsung itu lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan makna lainnya yang tidak langsung. Atas dasar itu, apabila terdapat pertentangan makna antara nash dengan zhâhir dalam penunjukannya, maka didahulukan yang nash.[13]    
C.    Mufassar
Ada beberapa definisi tentang mufassar, di antaranya:
a.       Menurut Abdul Wahab Khalaf, mufassar adalah:
مَا دَلَّ بِنَفْسِ صِيْغَتِهِ عَلَى مَعْنَاهُ الْمُفَصَّلِ تَفْصِيْلًا بِحَيْثُ لَايَبْقَى مَعَهُ احْتِمَالٌ لِلتَّأْوِيْلِ
Suatu lafaz yang dengan sighatnya sendiri memberi petunjuk kepada maknanya yang terinci, begitu terincinya shingga tidak dapat dipahami adanya makna lain dari lafaz tersebut.[14]
b.      Menurut Al-Uddah, mufassar adalah:
مَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ مِنْ لَفْظِهِ وَلَا يَفْتَقِرُ إِلَى قَرِيْنَةِ تَفْسِيْرِهِ
Sesuatu lafaz yang dapat diketahui maknanya dari lafaznya sendiri tanpa memerlukan qarinah yang menafsirkannya.[15]
Dari beberapa definisi di atas dapat diketahui bahwa hakikat lafaz mufassar adalah penunjukannya terhadap maknanya jelas sekali, penunjukannya itu hanya dari lafaznya sendiri tanpa memerlukan qarînah dari luar, serta tidak mungkin dita’wîl-kan.[16]
Mufassar terbagi dalam dua macam, yaitu:
a.       Menurut asalnya, lafaz itu memang sudah jelas dan terinci sehingga tidak perlu penjelasan lebih lanjut.[17] Contohnya QS. An-Nur (24) ayat 4:
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ù'tƒ Ïpyèt/ör'Î/ uä!#ypkà­ óOèdrßÎ=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_ Ÿ
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.
Bilangan yang ditetapkan dalam ayat ini jelas dan terurai yaitu delapan puluh kali dera, tidak ada kemungkinan untuk dipahami dengan lebih atau kurang dari bilangan itu.[18]
b.      Asalnya lafaz itu belum jelas (ijmal) dan memberikan kemungkinan beberapa pemahaman artinya. Kemudian datang dalil lain yang menjelaskan artinya sehingga ia menjadi jelas. Lafaz seperti itu, juga disebut dengan “mubayyan”.[19] Contohnya QS. An-Nisa (4) ayat 92:
`tBur Ÿ@tFs% $·YÏB÷sãB $\«sÜyz ㍃̍óstGsù 7pt7s%u 7poYÏB÷sB ×ptƒÏŠur îpyJ¯=|¡B #n<Î) ÿ¾Ï&Î#÷dr& 
Orang-orang yang membunuh orang beriman secara tidak sengaja, hendaklah ia memerdekakan hamba sahaya dan menyerahkan diyat kepada keluarganya.
Ayat ini menyangkut keharusan menyerahkan diyat kepada keluarga korban, tetapi tidak dijelaskan mengenai jumlah, bentuk, dan macam diyat yang harus diserahkan itu. Sesudah turun ayat ini datang penjelasan dari Nabi dalam sunnah yang merinci keadaan dan cara membayar diyat itu sehingga ayat di atas menjadi terinci dan jelas artinya.[20]
Lafaz mufassar itu dari segi penunjukannya terhadap makna yang dimaksud lebih jelas dari lafaz nash dan lafaz zhâhir, karena lafaz-nya memang lebih jelas dibandingkan dengan nash dari segi tafsirannya yang terinci, sehingga menjadikan mufassar tidak mungkin untuk di-takwil dan apa yang dituju menjadi terang. Karena penjelasan mufassar itu lebih kuat dari nash dan zhâhir, bila terjadi perbenturan pemahaman antara keduanya, maka harus didahulukan yang mufassar.[21]
D.    Muhkam
Lafaz yang muhkam ialah:
مَادَلَّ بِنَفْسِ صِيْغَتِهِ عَلَى مَعْنَاهُ الْوَضْعِىِّ دَلَالَةً وَاضِحَةً بِحَيْثُ لَايَقْبَلُ الْإِبْطَالَ وَ التَّبْدِيْلَ وَ التَّأْوِيْلَ
Suatu lafaz yang dari sighatnya sendiri memberi petunjuk kepada maknanya sesuai dengan pembentukan lafaznya secara penunjukan yang jelas, sehingga tidak menerima kemungkinan pembatalan, penggantian maupun ta’wil.[22]
Muhkam juga dapat berarti lafal yang menujukkan kepada maknanya secara jelas sehingga tertutup kemungkinan untuk di-ta’wil, dan menurut sifat ajaran yang dikandungnya tertutup pula kemungkinan pernah dibatalkan (nasakh) oleh Allah dan Rasul-Nya. Hukum yang ditunjukkannya tidak menerima pembatalan (nasakh), karena merupakan ajaran-ajaran pokok yang tidak berlaku padanya nasakh, misalnya kewajiban menyembah hanya kepada Allah, kewajiban beriman kepada rasul dan kitab-kitab-Nya, dan pokok-pokok keutamaan, seperti berbuat baik kepada kedua orang tua, dan kewajiban menegakkan keadilan. Ayat-ayat seperti ini menunjukkan kepada pengertiannya secara pasti (qath’i), tidak berlaku ta’wil padanya, dan tidak pula ada kemungkinan telah di-nasakh pada masa Rasulullah.[23]
Berikut ini adalah contoh dari lafaz muhkam, yaitu:
a.        Sabda Nabi Muhammad:
اَلْجِهَادُ جَاضٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَّامَةِ
Jihad itu berlaku sampai hari kiamat.[24]
Penentuan batas hari kiamat untuk jihad itu menunjukkan tidak mungkin berlakunya pembatalan dari segi waktu.[25]
b.      QS. An-Nur (24) ayat 4:
Ÿwur (#qè=t7ø)s? öNçlm; ¸oy»pky­ #Yt/r&
Jangan kamu terima dari mereka kesaksian selama-lamnya.
Kata #Yt/r& (selama-lamanya) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak diterima kesaksiannya itu berlaku untuk selamanya, dalam arti tidak dapat dicabut.
Lafaz muhkam terbagi atas dua macam, yaitu:
a.       Muhkam lizâtihi atau muhkam dengan sendirinya bila tidak ada kemungkinan untuk pembatalan atau nasakh itu disebabkan oleh nash (teks) itu sendiri. Tidak mungkin nasakh muncul dari lafaz-nya dan diikuti pula oleh penjelasan bahwa hukum dalam lafaz itu tidak mungkin di-nasakh.[26]
b.      Muhkam lighairihi atau muhkam karena faktor luar bila tidak didapatnya lafaz itu di-nasakh bukan karena nash atau teksnya itu sendiri tetapi karena tidak ada nash me-nasakh-nya. Lafaz dalam bentuk ini dalam istilah ushul disebut lafaz yang qath’i penunjukannya terhadap hukum.[27]
Ketentuan tentang lafaz muhkam bila menyangkut hukum, adalah wajib hukum itu secara pasti dan tidak mungkin dipahami dari lafaz tersebut adanya alternatif lain, serta tidak mungkin pula di-naskh oleh dalil lain. Penunjukan lafaz muhkam atas hukum lebih kuat dibandingkan dengan tiga bentuk lafaz sebelumnya, sehingga bila berbenturan pemahaman antara lafaz muhkam dengan bentuk lafaz yang lain, maka harus didahulukan yang muhkam dalam pengamalannya.[28]
E.     Khafi
Lafaz khafi ialah:
مَا خُفِيَ مَعْنَاهُ فِى بَعْضِ مَدْلُوْ لَاتِهِ لِعَارِضِ غَيْرِ الصِّغَةِ
Suatu lafaz yang samar artinya dalam sebagian penunjukan (dilalah)-nya yang disebabkan oleh faktor luar, bukan dari segi sighat lafaz.[29]
Menurut Abd. Al-Wahhab Khallaf, khafi adalah lafal yang dari segi penujukannya kepada makna adalah jelas, namun ketidakjelasan timbul ketika menerapkan pengertian itu kepada kasus tertentu. Ketidakjelasan itu disebabkan karena bentuk kasus itu tidak persis sama dengan kasus yang ditunjukan oleh suatu dalil.[30] 
Lafaz khafi itu sebenarnya dari segi lafaz-nya menunjukkan arti jelas, namun dalam penerapan artinya terhadap sebagian lain dari satuan artinya terdapat kesamaran. Untuk menghilangkan kesamaran itu diperlukan penalaran dan takwil.[31]
Adapun cara untuk menghilangkan kesamaran tersebut adalah melalui penelitian, mengetahui tujuan umum dan tujuan khusus ditetapkannya hukum atasnya; yaitu “perluasan” penunjukan lafaz atau “penyempitan” dalam penerapannya. Kemaslahatan umum harus diperhatikan dalam perluasan dan penyempitan tersebut, selama suatu lafaz dapat digunakan untuk kemaslahatan umum.[32]
Contoh dari lafaz khafi ini adalah lafaz السَّارِقُ (pencuri) pada QS. Al-Maidah (5) ayat 38:
ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ÷ƒr&   
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.
Lafaz السَّارِقُ pada ayat di atas artinya jelas, yaitu pengambil harta berharga milik orang lain secara tersembunyi dari tempat penyimpanannya. Tapi untuk menerapkan arti ini kepada sebagian dari beberapa satuan merupakan suatu bentuk yang samar dan tidak jelas. Seperti النَّشَالُ (pencopet) dan النَّبَاشُ (pencuri barang-barang di dalam kuburan) lafaz tersebut dikatakan khafi (samar).
Menurut pendapat Imam Syafi’i dan Imam Abu Yusuf keduanya tergolong pencuri, maka harus dipotong tangannya. Sedangkan menurut Ulama Hanafiyah pencopet digolongkan kepada pencuri, sehingga hukumannya potong tangan, tapi pencuri barang-barang di dalam kuburan tidak digolongkan kepada pencuri, sehingga hukumannya cukup dengan ta’zir.[33]
F.     Musykil
Lafaz musykil ialah:
مَا خُفِيَ مَعْنَاهُ بِسَبَبٍ فِى ذَاتِ الَّلفْظِ
Suatu lafaz yang samar artinya, disebabkan oleh lafaz itu sendiri.[34]
Sumber kesamaran dari lafaz itu adakalanya karena lafaz itu digunakan untuk arti yang banyak sehingga tidak dapat dipahami artinya jika hanya dengan melihat lafaz tersebut.
Lafaz musytarak termasuk ke dalam bentuk ini. Mungkin pula ketidakjelasan lafaz itu karena ada pertentangan antara apa yang dipahami dari suatu nash dengan apa yang dipahami dari nash lain.[35] Dalam memahami lafaz jenis ini diperlukan petunjuk dari luar lafaz, sehingga dalam penemuan petunjuk dari luar itu terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Contohnya lafaz quru’ dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 228:
àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr'Î/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4
Perempuan-perempuan yang bercerai dari suaminya hendaklah ber’iddah selama tiga quru’.
Lafaz quru’ dalam ayat tersebut bermakna ganda, yaitu “suci” dan “haid”.[36] Karena lafaz tersebut memiliki arti ganda, sehingga diperlukan adanya qarînah yang akan menjelaskannya. Dan karena qarînah yang digunakan ulama berbeda, sehingga hukum yang dihasilkan pun akan berbeda pula.
Imam Syafi’i dan sebagian para mujtahid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lafadh “al-qar-u” dalam ayat tersebut adalah suci. Qarinahnya adalah adanya tanda muannats (perempuan) pada kata bilangan, yang menurut bahasa ma’dudnya (yang dibilang) adalah mudzakkar, yaitu اَلطُّهْرُ (suci).[37]
Sedangkan menurut Ulama Hanafiyah dan segolongan mujtahidin bahwa lafadh “al-qar-u” dalam ayat tersebut adalah haid. Qarinahnya:
a.       Hikmah disyariatkannya iddah adalah untuk mengetahui bersihnya rahim dari kehamilan. Dan untuk mengetahui masalah ini dengan cara memperhatikan haid.[38]
b.      QS. At-Thalaq (65) ayat 4:
Ï«¯»©9$#ur z`ó¡Í³tƒ z`ÏB ÇÙŠÅsyJø9$# `ÏB ö/ä3ͬ!$|¡ÎpS ÈbÎ) óOçFö;s?ö$# £`åkèE£Ïèsù èpsW»n=rO 9ßgô©r& Ï«¯»©9$#ur óOs9 z`ôÒÏts 4 
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.
Ayat tersebut di atas menghubungkan hitungan bulan dengan ketiadaan haid. Maka berarti bahwa yang asal adalah hitungan dengan haid.[39]
c.       Dalam riwayat ad Daruquthni dari Ibnu ‘Amr:
طَلَاقُ الْأَمَةِ تَطْلِيْقَتَانِ وَعِدَّتُهَا حَيْضَتَانِ

Thalaq bagi hamba sahaya itu dua kali dan iddahnya dua kali haid.[40]
Adanya ketegasan bahwa iddah bagi hamba sahaya dua kali haid ini merupakan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan “quru” adalah haid untuk masa iddah bagi wanita merdeka.[41]
G.    Mujmal
Menurut bahasa al-mujmal berari samar.[42] Dan menurut istilah berarti: lafaz yang dengan bentuk (shigat)-nya tidak menunjukkan kepada pengertian yang dikehendaki olehnya, dan tidak tedapat qarinat-qarinat lafaz atau keadaan yang dapat menjelskannya. Maka sebab kesamaran di dalam al-mujmal ini bersifat lafzhiy, bukan bersifat ‘aridhiy (sifat yang baru datang dari luar lafaznya).[43]
Contoh lafaz mujmal ialah lafaz yang artinya dipindahkan oleh syara’ dari arti bahasa ke arti syara’, seperti lafaz salat, zakat, puasa, dan haji. Lafaz salat menurut bahasa diartikan dengan doa, namun menurut syara’ ialah suatu perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[44] Yang menerangkan arti syara’ tersebut adalah pembuat peraturan itu sendiri karena ditemui sunah qauliyah dan sunah fi’liyah yang menerangkan arti yang dimaksud oleh syara’.[45] Sabda Rasulullah s.a.w.:
صَلُّوْا كَمَا رَاَيْتُمُوْنِى اُصَلِّىْ
Lakukanlah shalat sebagaimana kamu melihatku melakukan shalat.[46]
Demikian pula beliau menginterpretasikan zakat, puasa, hajji, dan riba, serta segala sesuatu yang datang secara mujmal dalam nash-nash Al-Qur’an.[47]
Di antara mujmal adalah lafaz yang gharib (asing) yang ditafsirkan oleh nash sendiri dengan makna khusus, seperti lafaz al-qari’ah dalam QS. Al-Qari’ah (101) ayat 1-5:
èptãÍ$s)ø9$# ÇÊÈ   $tB èptãÍ$s)ø9$# ÇËÈ   !$tBur y71u÷Šr& $tB èptãÍ$s)ø9$# ÇÌÈ   tPöqtƒ ãbqä3tƒ â¨$¨Y9$# ĸ#txÿø9$$Ÿ2 Ï^qèZ÷6yJø9$# ÇÍÈ   ãbqä3s?ur ãA$t6Éfø9$# Ç`ôgÏèø9$$Ÿ2 Â\qàÿZyJø9$# ÇÎÈ  
Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Apabila penjelasan terhadap mujmal datang dari syari’, akan tetapi penjelasan itu tidak tuntas untuk dapat menghilangkan kemujmalan itu, maka dengan penjelasan itu mujmal menjadi musykil. Jalanpun terbuka untuk ijtihad dan pembahasan untuk menghilangkan ke-musykil-annya.[48]
H.    Mutasyâbbih
Mutasyâbbih ialah lafal yang petunjuknya memberikan arti yang dimaksud oleh lafal itu sendiri, sehingga tidak ada di luar lafal yang dipergunakan untuk memberikan petunjuk tentang artinya dan juga syara’ tidak menerangkan tentang artinya.[49]
Di antara lafaz mutasyâbbih adalah huruf-huruf hija’iyah yang terpotong-potong pada permulaan sebagian surat-surat Al-Qur’an, seperti: حم, ق, ص, الم . Dan ayat-ayat yang menurut zhâhir-nya menunjukkan secara samar adanya penyerupaan al-Khâlik kepada makhluk-Nya, seperti dalam hal Allah mempunyai mata, tangan, dan muka.[50] Contohnya:
a.       QS. Hud (11) ayat 37:
ÆìoYô¹$#ur y7ù=àÿø9$# $uZÏ^ãôãr'Î/
Dan buatlah bahtera itu dengan mata-mata Kami.
b.      QS. Al-Fath (48) ayat 10:
ßtƒ «!$# s-öqsù öNÍkÉ÷ƒr&
Tangan Allah di atas tangan mereka.
c.       QS. Ar-Rahman (55) ayat 27:
4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ  
Dan tetap kekal muka Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
Menurut ulama salaf, adanya kesamaran pada huruf-huruf hija’iyah dan ayat-ayat tersebut dikarenakan tidak dapat dipahami menurut arti bahasa. Lagi pula Allah dan Rasul-Nya tidak menjelaskan arti dan maksud yang dikehendaki. Dengan demikian menurut mereka hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mendengar lagi pula Maha Suci dari segala sesuatu yang menyerupai makhluk-Nya.[51]
Sedangkan menurut ulama khalaf, bahwa ayat-ayat yang menurut arti zhâhir-nya mustahil seperti Allah mempunyai tangan, mata, dan muka, itu semua harus di-ta’wil-kan dan dipalingkan dari arti zhâhir-nya kepada arti yang sesuai dengan dalil-dalil akal dan aturan bahasa Arab sekalipun dengan jalan majaz.[52]
Sebab terjadinya perbedaan antara ulama salaf dengan ulama khalaf disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memahami surat Ali ‘Imran (3) ayat 7, yaitu:
u$tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù's? žwÎ) ª!$# 3 tbqãź§9$#ur Îû ÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ @@ä. ô`ÏiB ÏZÏã $uZÎn/u
Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbbihat. Semuanya itu dari sisi Tuhan kami.
Dalam ayat ini ulama salaf memberi tanda waqf (berhenti) pada lafaz ª!$# (Allah). Atas dasar ini hanya Allahlah yang dapat mengetahui arti ayat-ayat al-mutasyâbbihat itu. Namun demikian kita wajib mengimaninya dan menyerahkan pemaknaannya kepada Allah. Oleh karena itu, menurut mereka, kita tidak punya kewajiban untuk membicarakan dan membahas ta’wil-nya.[53]
Sedang ulama khalaf  memberi tanda waqf  pada lafaz  tbqãź§9$#ur Îû ÉOù=Ïèø9$# (dan orang-orang yang mendalam ilmunya). Atas dasar ini ayat-ayat al-mutasyâbbihat itu dapat diketahui arti-artinya oleh Allah dan orang-orang yang sangat dalam ilmunya. Mereka men-ta’wil-kan ayat-ayat itu sesuai dengan dalil-dalil akal dan aturan bahasa Arab. Dan mereka memahasucikan al-Khaliq dari hal-hal yang meyerupai makhluk-Nya.[54]

Penutup

Zhâhir adalah lafaz yang menunjukkan maknanya dengan menggunakan sighatnya sendiri tanpa memerlukan qarînah dari luar, tetapi memiliki maksud lain dari maksud ungkapan tersebut yang merupakan pokok pembicaraannya serta ada kemungkinan untuk ditakwilkan. Nash adalah lafaz yang dengan sighatnya sendiri menunjukkan makna yang dimaksud secara asli dan langsung sesuai dengan apa yang diungkapkannya, dan ada kemungkinan ditakwilkan. Mufassar adalah lafaz yang penunjukannya terhadap maknanya jelas sekali, dan penunjukannya itu hanya dari lafaznya sendiri tanpa memerlukan qarînah dari luar, serta tidak mungkin ditakwilkan. Muhkam adalah lafaz yang menujukkan kepada makna yang jelas dan tidak memerlukan qarînah dari luar sehingga tertutup kemungkinan untuk ditakwilkan, diganti maupun dibatalkan (nasakh) oleh Allah dan Rasul-Nya.
Khafi adalah lafaz yang dari segi penujukan maknanya adalah jelas, namun ketidakjelasan timbul ketika menerapkan pengertian itu kepada kasus tertentu yang merupakan bagian dari satuan-satuannya. Sehingga untuk menghilangkan kesamaran tersebut diperlukan analisis dan pemikiran yang mendalam. Musykil adalah lafaz yang memiliki kesamaran yang disebabkan dari lafaz itu sendiri karena lafaz itu digunakan untuk arti yang banyak sehingga tidak dapat dipahami artinya jika hanya dengan melihat lafaz tersebut. Karena hal tersebut, sehingga diperlukan qarînah untuk menjelaskan maksudnya. Mujmal adalah lafaz yang dengan sighatnya tidak menunjukkan arti yang dimaksud dan tidak terdapat pula qarînah- qarînah yang dapat menjelaskan maksudnya. Sehingga sebab kesamarannya bersifat tekstual (lafzhiy) dan bukan hal yang datang kemudian. Mutasyâbbih adalah lafaz yang petunjuknya memberikan arti yang dimaksud oleh lafal itu sendiri, sehingga tidak ada qarînah yang dipergunakan untuk memberikan petunjuk tentang artinya dan juga syara’ tidak menerangkan tentang artinya.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Miftahul dan A. Faisal Haq, Ushul Fiqh: Kaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, Surabaya: CV Citra Media, 1997.
Djazuli, A. dan I. Nurol Aen, Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000.
Effendi, Satria, Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana, 2008.
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, alih bahasa Moh. Zuhri dan Ahamad Qarib, Semarang: Dina Utama Semarang, 1994.
Khallaf, Syekh Abdul Wahab, Ilmu Ushul Fikih, alih bahasa Halimuddin, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005.
Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh Jilid 2, Jakarta: Kencana, 2009.
Uman, Khairul dan A. Ahyar Aminudin, Ushul Fiqh II, Bandung: CV Pustaka Setia, 2001.





[1]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, Ed. 1, Cet. v, Jakarta: Kencana, 2009, h. 4.
[2]Syekh Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih, alih bahasa Halimuddin, Cet. v, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005, h. 200.
[3]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 5.
[4]Syekh Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih, h. 201.
[5]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 5.
[6]Syekh Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih, h. 201.
[7]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 5-6.
[8]Syekh Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih, h. 202.
[9]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 6-7.
[10]Syekh Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih, h. 202.
[11]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 7.
[12]Ibid.
[13]Ibid., h. 7-8.
[14]Ibid., h. 9.
[15] Ibid.
[16]Ibid.
[17]Ibid.
[18]Ibid., h. 10.
[19]Ibid.
[20]Ibid.
[21]Ibid., h. 10-1.
[22]Ibid., h. 11.
[23]Satria Effendi, Ushul Fiqh, Ed. 1, Cet. ii, Jakarta: Kencana, 2008, h. 225-6.
[24]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 12.
[25]Ibid.
[26]Ibid.
[27]Ibid.
[28]Ibid., h. 12-3.
[29]Ibid., h. 13.
[30]Satria Effendi, Ushul Fiqh, h. 226.
[31]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 13.
[32]Ibid., h. 15-6.
[33]Miftahul Arifin dan A. Faisal Haq, Ushul Fiqh: Kaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, Cet. i, Surabaya: CV Citra Media, 1997, h. 198-9. 
[34]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h. 16.
[35]Ibid.
[36]Ibid., h. 17.
[37]Miftahul Arifin dan A. Faisal Haq, Ushul Fiqh: Kaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, h. 199-200.
[38]Ibid., h. 200.
[39]Ibid.
[40]Ibid.
[41]Ibid., h.201.
[42]A. Djazuli dan I. Nurol Aen, Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam, Ed. 1, Cet. i, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000, h. 270.
[43]Ibid.
[44]Khairul Uman dan A. Ahyar Aminudin, Ushul Fiqh II, Cet. ii, Bandung: CV Pustaka Setia, 2001, h. 16.
[45]Ibid., h. 17.
[46]Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, alih bahasa Moh. Zuhri dan Ahamad Qarib, Cet. i, Semarang: Dina Utama Semarang, 1994, h. 265.
[47]Ibid.
[48]Ibid., h. 267.
[49]Khairul Uman dan A. Ahyar Aminudin, Ushul Fiqh II, h. 18.
[50]A. Djazuli dan I. Nurol Aen, Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam, h. 272.
[51]Ibid.
[52]Ibid., h. 273.
[53]Ibid., h. 274.
[54]Ibid.
Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.