Select a Language

Search On Blog

Dilalah dalam Perspektif Hanafiyah


Penulis : Jauharatun Nafisah NIM 100 211 0329  (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim

Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Nash-nash Al-Qur’an dan as-Sunnah menggunakan bahasa Arab, yang mana pemahaman hukum dari nash-nash tersebut hanya akan benar apabila dilihat dari ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi bahasa Arab. Singkatnya, pemahaman makna dan hukum-hukum daripada nash-nash tersebut bisa dimengerti apabila kita mengetahui dan menggunakan cara-cara pemahaman masyarakat Arab dalam memahami lafazh-lafazh terkait.
Sehingga dalam makalah ini, penulis akan memaparkan metode tekstual (pendekatan kebahasaan), yaitu dari segi dilâlah yang dapat digunakan untuk memahami hukum-hukum yang ada dalam nash-nash Al Qur’an dan as Sunnah.

Pembahasan
A.    Pengertian Dilâlah
Dilâlah atau dalâlat secara bahasa berarti petunjuk. Sedangkan secara istilah ulama ushul al-fiqh:[1]
الدلالة هى مايدل اللفظ من معنى
“Dilâlah adalah suatu pengertian yag ditunjuki oleh lafazh.”
Atau:
الدلالة هى مايقتضيه اللفظ عند الإطلاق
“Dilâlah merupakan sesuatu yang dikehendaki oleh lafazh ketika diucapkan secara mutlak.”

Menurut Ulama Hanafiyah, sebagai pedoman untuk menggali dan memahami lafazh-lafazh al-nash tersebut dapat dilakukan dengan melalui pemahaman dilâlah lafzhiyah dan dilâlah ghairu lafzhiyah.[2]

B.     Dilâlah Lafzhiyah dan Pembagiannya
Dilâlah lafzhiyah merupakan dilâlah yang ditunjukkan secara jelas oleh lafazhnya. Ulama Hanafiyah membagi dilâlah lafzhiyah ini menjadi empat bagian, yakni:[3]
1.      ‘Ibarah Nash
Ulama ushul fikih mendefinisikan ‘ibarah nash ini bermacam-macam. Definisi-definisi tersebut dapat dikemukakan disini antara lain:
a.       Menurut Abu Zahrah:
“‘Ibarah Nash adalah makna yang dapat dipahami dari lafazh, baik itu lafazh zharir atau lafazh nash, atau baik itu lafazh muhkam atau bukan muhkam.”
b.      Menurut Syaykh al-Khudlariy:
“‘Ibarah Nash itu lafazh dan artinya adalah petunjuk lafazh atas makna yang dimaksudkan, baik yang dimaksudkan itu makna asli atau bukan asli.”
Dapat disimpulkan bahwa ‘ibarah nash mengandung lafazh yang tersusun dari dua maksud hukum, yakni maksud hukum yang asli (hukum yang mula-mula dipakai) dan maksud hukum bukan asli (taba’iy = ikutan). ‘Ibarah nash mengandung makna yang segera dapat dipahami dari susunan lafazhnya.
Contoh lafazh ‘ibarah nash:
فاَنْكِحُوْا ماَطاَبَ لَكُمْ مِنَ النِّساَءِ مِشْنىَ وَثُلاَثَ وَرُباَعَ ﴿النساء: ۳﴾
Artinya: “Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” (Q.S. An Nisa [4]: 3)
Pengertian asli dari nash ini adalah pembatasan jumlah maksimal wanita yang boleh dikawini, yaitu empat orang. Adapun pengertian tidak asli disini bahwa adanya anjuran/ pembolehan kawin dengan wanita yang disenangi.[4]

2.      Isyarat Nash
Isyarat nash  adalah makna/ pengertian yang tidak segera dapat dipahami dari lafazhnya dan tidak dimaksudkan oleh susunan kata, akan tetapi hanya makna lazim (biasa) dari makna yang segera dapat dipahami dari kata-katanya. (Abdul Wahhab Khallaf, 1972: 145).[5]
Contoh:
4 n?tãur ÏŠqä9öqpRùQ$# ¼ã&s! £`ßgè%øÍ £`åkèEuqó¡Ï.ur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ 3
Artinya: “Dan kewajiban ayah memberi makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (Q.S. Al Baqarah [2]: 233).
Pengertian dari isyarat nash bahwa nasab anak dihubungkan dengan bapak, tidak pada ibu, mengambil dari perkataan: على المولود له (atas orang yang melahirkannya), petunjuk ini berdasarkan pada maksud yang tak asli.[6]
Contoh lain:

Ïä!#ts)àÿù=Ï9 tûï̍Éf»ygßJø9$# tûïÏ%©!$# (#qã_̍÷zé& `ÏB öNÏd̍»tƒÏŠ óOÎgÏ9ºuqøBr&ur
Artinya: “(yaitu) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka.” (Q.S. Al Hasyr [59]: 8).
Pengertian isyarat nash bahwa harta benda Muhajirin yang ditinggalkan di Mekkah, bukanlah menjadi milik mereka lagi.[7]

3.      Dilâlah Nash (Petunjuk Nash)
Petunjuk nash adalah makna/ pengertian yang dapat dipahami dari jiwa nash dan rasionalnya. (Abdul Wahhab Khallaf, 1972: 148).[8]
Jika nash itu ungkapannya menunjukkan pada hukum suatu kejadian karena ‘illat yang menjadi dasar hukum itu, kemudian didapati kejadian yang sama ‘illat hukumnya atau lebih utama daripadanya, maka secara bahasa dapat dipahami bahwa nash itu mencakup dua kejadian tersebut.[9]
Contoh lafazh:
فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفِّ
Artinya: “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.” (Q.S. Al Isra’ [17]: 23)
Pengertian secara dilâlah nash bahwa semua perkataan/ perbuatan yang menyakitkan kedua hati orang tua itu dilarang.[10]
Contoh lain:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ tAºuqøBr& 4yJ»tGuŠø9$# $¸Jù=àß $yJ¯RÎ) tbqè=à2ù'tƒ Îû öNÎgÏRqäÜç/ #Y$tR (  ÇÊÉÈ  
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.” (Q.S. An Nisa’ [4]: 10)
Pengertian secara dilâlah nash bahwa membakar, membuang harta anak yatim, serta memberikannya kepada orang lain juga dilarang.[11]

4.      Iqtidha Nash (Kehendak Nash)
Kehendak nash adalah makna/ pengertian yang mana kalimat itu tidak dapat dimengerti kecuali dengan memperkirakan adanya pengertian tersebut. Jadi lafazhnya tidak ada, akan tetapi kebenaran kalimat dan maknanya membutuhkan pengertian itu. (Abdul Wahhab Khalaf, 1972: 150)[12]
Seperti dalam firman Allah Swt.:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهاَ تُكُمْ وَبَناَتُكُمْ
Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, dan anak-anakmu yang perempuan.” (Q.S. An Nisa’ [4]: 23)
Pengertian secara iqtidha nash pada ayat ini adalah “mengawini mereka”, karena menyandarkan keharaman kepada pribadi ibu dan anak adalah tidak tepat. Maka diperkirakanlah lafazh yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh nash tersebut yakni kata mengawini.[13]

C.     Dilâlah Ghairu Lafzhiyah dan Pembagiannya
Dilâlah ghairu lafzhiyah merupakan dilâlah yang ditunjukkan secara tidak jelas oleh lafazhnya. Hanafiyah membagi dilâlah ghairu lafzhiyah menjadi empat macam. Mereka menamakan dengan Bayan Dharurah (penjelasan secara darurat). Keempat macam dilâlah itu memberi petunjuk dengan cara sukut/diam.[14]
Pertama:
اَنْ يَلْزَمَ عَنْ مَذْكُوْرٍ مَسْكُوْتٍ عَنْهُ
“Jika lafazh yang disebut menimbulkan pengertian pada sesuatu yang didiamkan (yang tidak disebut dalam kalimat itu).”
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam menjelaskan bagian waris kedua orang tua:
4 Ïm÷ƒuqt/L{ur Èe@ä3Ï9 7Ïnºur $yJåk÷]ÏiB â¨ß¡9$# $£JÏB x8ts? bÎ) tb%x. ¼çms9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù óO©9 `ä3tƒ ¼ã&©! Ó$s!ur ÿ¼çmrOÍurur çn#uqt/r& ÏmÏiBT|sù ß]è=W9$# 4  ÇÊÊÈ  

Artinya: “Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak memiliki anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga.” (Q.S. An Nisa’ [4]: 11)
Bentuk kalimat seperti ini menunjukkan terbatasnya pembagian waris hanya kepada kedua orang tua saja. Dan khusus ibu mendapat sepertiga bagian, maka sudah pasti bagian yang didiamkan, yaitu bagian bapak adalah duapertiga.[15]
Kedua:
دَلاَلَةُ حاَلِ السَّاكِتِ الَّذِى وَظِيْفَتُهُ الْبَياَنُ مُطْلَقاً اَوْ فىِ تِلْكَ الحَادِثَةِ
“Diamnya seseorang, padahal tugas orang tersebut harus menjelaskan secara mutlak kejadian itu.”
Seperti diamnya Rasulullah Saw., ketika menyaksikan suatu peristiwa baik berupa perkataan maupun perbuatan. Selama beliau tidak mengingkari, maka diamnya itu menunjukkan izinnya. Oleh karena itu penetapan/ taqrir Nabi Saw. merupakan salah satu sunnah, sebagaimana perkataan atau perbuatannya. Seperti dalam satu riwayat:[16]
عِنْ اَسْمَاءَ بِنْتِ اَبِى بَكْرٍ رَضِ اللهُ عَنْهُماَ قاَلَتْ: نَحَرْناَ عَلىَ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ فَرَساً فَأَكَلْناَهُ.
“Diriwayatkan dari ‘Asma putri Abu Bakar ra. ia berkata: Pada masa Rasulullah Saw. kami menyembelih kuda, kemudian kami memakannya.” (Hadits  Muttafaq ‘alaih)
Ketiga:
إِعْتِباَرُ سُكُوْتِ السَّاكِتِ دَلاَلَةً كاَلنَّطْقِ لِدَفْعِ التَّغْدِيرِ
“Diamnya seseorang dianggap sama dengan perkataannya, untuk mencegah terjadinya penipuan/ kesamaran.”
Seperti diamnya seorang wali dikala melihat orang yang berada di bawah perwaliannya melakukan jual beli, sedang ia tidak melarang. Hal ini menunjukkan bahwa ia memberi izin, sebab kalau tidak dianggap sebagai izin, maka akan menimbulkan bahaya bagi orang lain. Sedang menolak bahaya adalah wajib, berdasarkan sabda Rasulullah Saw., yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al Khudri:[17]
لاَضَرَرَ وَلاَضِرَارَ . رواه ابن ماجه
“Tidak boleh menimbulkan bahaya kepada orang lain dan tidak boleh membalas bahaya yang dilakukan oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
Keempat:
دَلاَلَةُ السُّكُوتِ عَلىَ تَعَيُّنِ مَعْدُودٍ تُعُرِفَ حَذْفُهُ ضَرُوْرَةَ طُوْلِ الْكَلاَمِ بِذِكْرِهِ
“Didiamkan/ tidak disebutkan jumlah bilangan tertentu karena sudah menjadi kebiasaan agar pembicaraan/ kalimat tidak terlalu panjang.”
Seperti kata-kata pembeli kepada penjual: ‘Saya beli seratus potong celana, baju dan kaos’. Sedangkan yang dimaksud adalah seratus potong celana, seratus potong baju dan seratus potong kaos.[18]

Kesimpulan
Dari pemaparan panjang lebar pada pembahasan sebelumnya, telah jelas diterangkan mengenai metode tekstual (pendekatan kebahasaan) yaitu dari segi Dilâlah suatu lafazh terhadap hukum, yakni:
Dilâlah Lafzhiyah, dibagi menjadi empat bagian, yakni: Pertama, ‘Ibarah Nash (ungkapan nash) yang dapat langsung dipahami maknanya baik yang dimaksudkan adalah yang asli atau tidak. Kedua, Isyarat Nash dimana petunjuk atas maknanya tidak dituju oleh lafazh awal. Ketiga, Dilâlah Nash (petunjuk nash) yang merupakan petunjuk lafazh pada  hukum yang ditetapkan untuk makna yang tidak diterangkan karena adanya persamaan ‘illat antara keduanya. Keempat, Iqtidha Nash (kehendak nash) yang makna dari lafazh tidak bisa dimengerti kecuali dengan memperkirakan adanya pengertian tersebut.
Dilâlah Ghairu Lafzhiyah, merupakan dilâlah yang tidak ditunjukkan secara jelas oleh lafazhnya. Kemudian dilâlah ini dibagi pada empat bagian, yakni: Pertama, lafazh yang menimbulkan pengertian tersirat pada sesuatu yang tidak dijelaskan. Kedua, seseorang sebagai petunjuk dalam keadaan diam yang sebenarnya berfungsi untuk menjelaskan secara mutlak. Ketiga, anggapan diamnya seseorang sebagai petunjuk, seperti ucapan untuk menolak penipuan. Keempat, tidak disebutkan jumlah bilangan tertentu agar kalimat tidak terlalu panjang dengan adanya perwakilan makna oleh lafazh.
 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Miftahul, Ushul Fiqh: Kaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, Surabaya: Citra Media, 1997.
Biek, Syekh Muhammad Al-Khudhori, Terjemah Ushul Fiqh, alih bahasa: Zaid H. Alhamid, Pekalongan: Raja Murah, tt.
Jazuli, A., Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000.
Rahman, Asjmuni A., Metoda Penetapan Hukum Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1986.





[1]A. Jazuli, Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam, Ed. 1, cet. i, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000, h. 279.
[2]Ibid., h. 280.
[3]Ibid.
[4]Miftahul Arifin, Ushul Fiqh: Kaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, cet. i, Surabaya: Citra Media, 1997, h. 175.
[5]Ibid., h. 176.
[6]Asjmuni A. Rahman, Metoda Penetapan Hukum Islam, cet. i, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1986, h. 98.
[7]Miftahul Arifin, Ushul…, h. 176.
[8]Ibid., h. 177.
[9]Ibid.
[10]Ibid.
[11]Ibid., h. 177-178.
[12]Ibid., h. 178.
[13]Ibid.
[14]Syekh Muhammad Al-Khudhori Biek, Terjemah Ushul Fiqh, alih bahasa: Zaid H. Alhamid, Pekalongan: Raja Murah, tt, h. 141.
[15]Miftahul Arifin, Ushul…, h. 172.
[16]Ibid.
[17]Ibid., h. 174.
[18]Ibid., h. 175.
Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Dilalah dalam Perspektif Hanafiyah. Sahabat dapat menemukan artikel di atas dengan URL http://www.abdulhelim.com/2012/05/dilalah-dalam-perspektif-hanafiyah.html. Silahkan kutip artikel Dilalah dalam Perspektif Hanafiyah jika dipandang menarik dan bermanfaat, tetapi tolong mencantumkan link Dilalah dalam Perspektif Hanafiyah sebagai Sumbernya.

Ditulis Oleh : Abdul Helim, S.Ag, M.Ag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Abdul Helim berharap anda dapat memberikan komentar, namun tolong agar menggunakan bahasa yang etis. terima kasih

Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.