Select a Language

Search On Blog

Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaih


Penulis : Humairah  NIM 1002110332 (Mahasiswa Jurusan Syari’ah, Prodi Ahwal Asy-Syakhshiyyah, STAIN Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester ganjil tahun 2011) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim


PENDAHULUAN
Pada makalah sebelumnya kita telah mempelajari mengenai Al Ahkam dan Al Hakim, yang mana keduanya merupakan induk dasar mengenai adanya Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaihi. Pada makalah ini, akan dibahas mengenai Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaihi mulai dari pengertian, syarat-syaratnya, macam-macamnya, pembagiannya, hingga membahas mengenai dasar taklifi dan juga syarat-syarat taklifi.

PEMBAHASAN

MAHKUM FIH
Pengertian Mahkum Fih
Mahkum fih ialah yang dibuat hukum, yaitu perbuatan mukallaf yang berhubungan (sangkutan) dengan hukum yang lima, yang masing-masing ialah:

1.         Yang berhubungan dengan ijab, dinamai wajib;
2.         Yang berhubungan dengan nadb, dinamai mandub/sunnah;
3.         Yang berhubungan dengan tahrim, dinamai haram;
4.         Yang berhubungan dengan karahah, dinamai makruh;
5.         Yang berhubungan dengan ibahah, dinamai mubah.[1]
Syarat-syarat Mahkum Fih
Supaya sesuatu perbuatan sah ditaklifkan, ia harus memenuhi tiga syarat :
1.      Perbuatan itu diketahui oleh mukallaf dengan jelas, sehingga dia sanggup melakukannya seperti yang diminta dari padanya.
2.      Harus diketahui bahwa pentaklifan itu berasal dari orang yang mempunyai wewenang untuk mentaklifkan dan termasuk orang yang wajib atas mukallaf mematuhi hukum-hukumnya.
3.      Bahwa perbuatan yang ditaklifkan itu mungkin terjadi, artinya melakukannya atau meninggalkannya berada dalam batas kemampuan mukallaf.[2]

Macam-macam Mahkum Fih
Perbuatan yang dihukumkan (Mahkum Fih) itu adalah:
1.         Wajib
Perbuatan wajib, yaitu sesuatu perbuatan yang diberikan pahala bila dikerjakan dan diberi siksa bila ditinggalkan.[3]
Contoh Wajib :
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ÏŠqà)ãèø9$$Î/ . الاۤية (المائدة ۱)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad  itu…… (Surat Al-Maidah, ayat 1).
Ijaab yang diperoleh dari ayat ini berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yaitu memenuhi aqad yang hukumnya wajib.[4]
2.         Mandub
Mandub (sunnah) yaitu suatu perkara yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat siksa atau dosa.[5]
Contoh Mandub:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù 4 (البقرة ۲۸۲)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.... (Surat Al-Baqarah, ayat 282) .
Nadab yang diperoleh dari ayat ini berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yaitu menulis hutang yang hukumnya mandub (sunat).[6]
3.         Haram
Haram ialah larangan keras, jika dikerjakan berdosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala.[7]
Contoh Haram:
Ÿwur (#qè=çGø)s? š[øÿ¨Z9$# الاۤية (الانعام ۱۵۱)
Artinya : Dan janganlah kamu membunuh jiwa ... (Surat Al-An’am, ayat 151).
Tahrim yang diperoleh dari ayat ini berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yaitu membunuh jiwa yang hukumnya haram.[8]
4.         Makruh
Makruh ialah larangan yang tidak keras, jika dilanggar tidak berdosa, tetapi kalau tidak dikerjakan mendapat pahala.[9]
Contoh Makruh:
Ÿwur (#qßJ£Jus? y]ŠÎ7yø9$# çm÷ZÏB tbqà)ÏÿYè? . الاۤية (البقرة ۲٦٧)
Artinya: Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya… (Surat Al-Baqarah, ayat 267).
Karahah yang diperoleh dari ayat ini berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yaitu menafkahkan harta yang buruk yang hukumnya makruh.[10]
5.         Mubah
Mubah ialah sesuatu yang boleh/tidak dikerjakan. Kalau dikerjakan/ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa, misalnya makan yang halal, berpakaian bagus, tidur, dan sebagainya.[11]
Contoh Mubah:
`yJsù šc%x. Nä3ZÏB $³ÒƒÍ£D ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 4. (البقرة ۱۸٤)
Artinya: Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain... (Surat Al-Baqarah, ayat 184).
Ibahah yang diperoleh dari ayat ini berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yaitu berbuka puasa dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan, yang hukumnya mubah.[12]
MAHKUM ‘ALAIHI
Pengertian Mahkum ‘Alaihi
Mahkum ‘alaihi (مَحْكُوْمٌ عَلَيْهِ) = yang dikenai hukum ialah: orang-orang mukallaf, artinya orang-orang muslim yang sudah dewasa dan berakal, dengan syarat ia mengerti apa yang dijadikan beban baginya.[13]
Orang gila, orang yang sedang tidur nyenyak, dan anak-anak yang belum dewasa dan orang yang terlupa tidak dikenai taklif (tuntutan), sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَ ثٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيْقُ. (روه ابوداود والنسائ)
“Pena itu telah diangkat (tidak dipergunakan mencatat) amal perbuatan tiga orang: (1) orang yang tidur hingga ia bangun, (2) anak-anak hingga ia dewasa, dan (3) orang gila hingga sembuh kembali”.[14]
Demikianlah orang yang terlupa disamakan dengan orang yang tidur dan yang tidak mungkin mematuhi apa yang ditaklifkan.[15]

Syarat-syarat Taklif
Syarat-syarat orang mukallaf itu ada dua bagian:
1.      Harus sanggup dan dapat memahami khitah atau ketentuan yang dihadapkan kepadanya.
2.      Ahli dan patut ditaklifi. Yang dimaksud dengan ahli adalah pantas atau patut ditaklifi. Yang dimaksud mukallaf itu pantas atau patut dibebani dengan taklif. Ahli yang dimaksud terdiri dari dua bagian antara lain:
a.       اَهْلِيَةُ الْوُجُوْب adalah kepantasan seseorang untuk mempunyai hak dan kewajiban.
-          Yang dimaksud dengan hak adalah sesuatu yang harus diterimanya dari orang lain.
-          Kewajiban adalah sesuatu yang harus diberikan kepada orang lain.
Jadi ahliyatul-wujub itu adalah kepantasan seseorang untuk menerima haknya dari orang lain dan memenuhi kewajiban dari orang lain. Dasar keputusan itu ialah kemanusiaan. Oleh karena itu sesama manusia laki-laki, perempuan, baik janin, bayi maupun baligh, gila ataupun waras/sehat otaknya, sakit atau sehat ditinjau dari kemanusiaannya ia adalah ahliyatul wajib.
Manusia ditinjau dari hubungannya dengan ahliyyatul wujub mempunyai dua keadaan saja, yaitu:
1)        Terkadang ia mempunyai ahliyyatul wujub yang kurang, yaitu apabila ia layak untuk memperoleh hak, akan tetapi tidak layak untuk dibebani kewajiban, ataupun sebaliknya. Mereka mencontohkan yang pertama dengan contoh janin didalam perut ibunya. Ia mempunyai berbagai hak, karena ia berhak menerima warisan dan berhak atas pemanfaatan waqaf, akan tetapi ia tidak terbebani kewajiban untuk orang lain. Dengan demikian, ahliyyatul wujubnya adalah kurang.
2)        Ada kalanya ia mempunyai ahliyyatul wujub yang sempurna, apabila ia layak untuk memperoleh berbagai hak dan dibebani berbagai kewajiban. Ahliyyatul wujub ini tetap pada setiap manusia semenjak ia lahir, ketika ia kanak-kanak, dalam usia menjelang balighnya (mumayyiz), dan setelah ia baligh. Dalam keadaan apapun ia berbeda pada periode dari perkembangan kehidupannya, ia mempunyai ahliyyatul wujub yang sempurna. Sebagaimana telah kami kemukakan tidak ada seorang manusiapun yang tidak mempunyai ahliyyatul wujub.[16]
b.      اَهْلِيَةُ الاَدَاءَ adalah kepantasan seseorang mukallaf untuk diperhitungkan oleh syara’, ucapan dan perbuatannya dengan pengertian, apabila seseorang mengerjakan shalat wajib, maka syara’ menilai bahwa kewajibannya telah tunai dan gugur daripadanya tuntutan itu. Sebagai dasar untuk menentukan ahliyatul ada-a ialah tamyiz. Oleh karena itu manusia yang tergolong kepada ahliyatul ada-a hanyalah manusia yang mumayiz saja.[17]
Manusia ditinjau dari hubungannya dengan ahliyyah ada’ mempunyai tiga keadaan, yaitu:
1)        Terkadang ia sama sekali tidak mempunyai ahliyyah ada’, atau sama sekali sepi daripadanya. Inilah anak kecil pada masa kanak-kanaknya dan orang gila dalam usia berapapun.
2)        Ada kalanya ia adalah kurang ahliyyah ada’-nya. Yaitu orang yang telah pintar tapi belum baligh. Ini berkenaan dengan anak kecil pada periode tamyiz (pandai membedakan antara baik dan buruk) sebelum baligh, dan berkenaan pula pada orang yang kurang waras otaknya, karena sesungguhnya orang yang kurang waras otaknya adalah orang yang cacat akalnya, bukan tidakl berakal, Ia hanyalah lemah akal, kurang sempurna akalnya. Jadi hukumnya sama dengan anak kecil yang mumayyiz.
3)        Ada kalanya ia mempunyai ahliyyah ada’ yang sempurna, yaitu orang yang telah mencapai akil baligh, ahliyyah ada’ yang sempurna terwujud dengan kebalighan manusia dalam keadaan berakal.[18]


Dasar Taklif
Sebagai kebijaksanaan Allah SWT., perintah dan larangan (taklif = pertanggungan jawab, selanjutnya taklifi, selalu disesuaikan dengan kemampuan (ahliyyah) manusia. Hak-hak Allah maupun hak-hak manusia bagaimanapun juga macamnya, tidak dibebankan kecuali kepada orang yang mempunyai kemampuan, karena itu, kemampuan ini menjadi dasar adanya taklif.[19]
Halangan Ahliyyah
Hal-hal yang menggugurkan taklif dalam Ilmu Ushul Fikih disebut :       عَوَارِضُ الأَهْلِيَّةِ(hal-hal yang menghilangkan Keahlian), yang terbagi ke dalam dua macam, yaitu:
1.     سَمَاوِيَّةُعَوَرِضُ = hal-hal yang menghalang yang bersifat samawi, artinya diluar usaha dan kehendak manusia.[20] Seperti gila, agak kurang waras akalnya, dan lupa.[21]
2.     كَسْبِيَةٌعَوَرِضُ = hal-hal yang menghalang yang berasal dari usaha dan kehendak manusia.[22] Seperti mabuk, bodoh, dan hutang.[23]
Kesimpulan
Dari pemahaman penulis, mahkum fih merupakan perbuatan mukallaf yang berhubungan dengan hukum yang lima, yaitu ijab/wajib, nadb/mandub, tahrim/haram, karahah/makruh, ibahah/mubah.
Syarat-syarat mahkum fih antara lain: perbuatan itu diketahui oleh mukallaf dengan jelas, sehingga dia sanggup melakukannya seperti yang diminta dari padanya, harus diketahui bahwa pentaklifan itu berasal dari orang yang mempunyai wewenang untuk mentaklifkan dan termasuk orang yang wajib atas mukallaf mematuhi hukum-hukumnya dan bahwa perbuatan yang ditaklifkan itu mungkin terjadi, artinya melakukannya atau meninggalkannya berada dalam batas kemampuan mukallaf.
Mahkum fih terbagi menjadi 5 macam, yaitu ijab/wajib, nadb/mandub, tahrim/haram, karahah/makruh, ibahah/mubah. Mahkum ‘alaihi adalah subjek hukum atau yang dikenai hukum. Yaitu orang-orang mukallaf.
Syarat-syarat taklifi antara lain: harus sanggup dan dapat memahami khitah atau ketentuan yang dihadapkan kepadanya, dan ahli dan patut ditaklifi. Yang menjadi dasar taklif adalah kemampuan (ahliyyah) manusia. Kemampuan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu ahliyyah wujub dan ahliyyah ada’.
Halangan ahliyyah yaitu hal-hal yang menghalang yang bersifat samawi, artinya diluar usaha dan kehendak manusia, dan hal-hal yang menghalang yang berasal dari usaha dan kehendak manusia.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Zainal Abidin, Ushul Fiqih, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Bakry, Nazar, Fiqh &Ushul Fiqh, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003.
Rifa’i, Moh., Ushul Fiqih, Bandung: PT Alma’arif, tt.
Hanafie, A., Ushul Fiqh, Jakarta: Widjaya Djakarta, 1965.
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh, Semarang: Dina Utama, 1994.



[1]Moh. Rifa’i, Ushul Fiqih, cet. I, Bandung: PT Alma’arif, h. 19.
[2]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih, cet. I, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, h. 40-41.
[4]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih, 1975, h. 38.
[5]Moh. Rifa’i, Ushul Fiqih…, h. 20.
[6]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih..., h. 38.
[7]Moh. Rifa’i, Ushul Fiqih…, h. 20.
[8]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih..., h. 38-39.
[9]Moh. Rifa’i, Ushul Fiqih…, h. 20.
[10]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih..., h. 39.
[11]Moh. Rifa’i, Ushul Fiqih…, h. 20.
[12]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih..., h. 39.
[13]Moh. Rifa’i, Ushul Fiqih…, h. 16.
[14]Ibid., h. 16-17.
[15]Ibid., h. 17.
[16]Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, cet. I, Semarang: Dina Utama, 1994, h. 202-203.
[17]Nazar Bakry, Fiqh &Ushul Fiqh, cet. IV, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, h.170-171.
[18]Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh…, h. 203-204.
[19]A. Hanafie, Ushul Fiqh, cet. IV, Jakarta: Widjaya Djakarta, 1965, h. 24.
[20]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih..., h. 46.
[21]Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh…, h. 205.
[22]Zainal Abidin Ahmad, Ushul Fiqih..., h. 46.
[23]Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh…, h. 205.
Terima kasih telah membaca artikel yang berjudul Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaih. Sahabat dapat menemukan artikel di atas dengan URL http://www.abdulhelim.com/2012/04/mahkum-fih-dan-mahkum-alaih.html. Silahkan kutip artikel Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaih jika dipandang menarik dan bermanfaat, tetapi tolong mencantumkan link Mahkum Fih dan Mahkum ‘Alaih sebagai Sumbernya.

Ditulis Oleh : Abdul Helim, S.Ag, M.Ag

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Abdul Helim berharap anda dapat memberikan komentar, namun tolong agar menggunakan bahasa yang etis. terima kasih

Posting Lebih Baru Posting Lama
Designed by : Abdul Helim 2012. Picture : Storman.
Template: Josh Peterson. Powered by : Blogger. Silakan Baca Kebijakan Kami di : Privacy Policy.